Studi kritis penerapan Cadar di Pondok Pesantren Mambaus Sholihin Gresik dalam perspektif Husein Muhammad

This item is published by Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Masrihah, Lailatul (2021) Studi kritis penerapan Cadar di Pondok Pesantren Mambaus Sholihin Gresik dalam perspektif Husein Muhammad. Undergraduate thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

[img] Text
Lailatul Masrihah_E71214023.pdf

Download (1MB)

Abstract

Penelitian dengan menggunakan metode kualitatif yang bersifat analisis deskriptif dengan wawancara kepada narasumber yang bersangkutan, dengan tujuan, bisa mengetahui tanggapan langsung dari orang-orang yang memakai cadar di Pondok Pesantren Mambaus Sholihin. Dalam Islam sendiri, pakaian harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan atau telah dijelaskan para ulama muslim. Pakaian harus menutupi aurat, dan tidak membentuk lekukan dan tebal tidak memperlihatkan apa yang ada di dalam tubuh. Pakaian pria tidak boleh terlihat seperti pakaian wanita atau sebaliknya. Menguatnya sentimen negatif, terhadap kaum perempuan yang memilih memakai cadar, diakui atau tidak turut membawa pandangan negatif pula terhadap perempuan yang memakai cadar, dan kemudian di identikkan dengan kelompok ekstimis Islam. Padahal, tidak semua mempunyai orientasi ekstrimis Islam dalam pemakaian cadar. Seperti yang terjadi di Pondok Pesantren Mambaus Sholihin, para santri memakai cadar, bukan karena sikap poltik yang mendukung kelompok ekstrimis Islam. Namun, lebih karena menjaga dari fitnah dan hal-hal yang tidak diinginkan. Karena, Mambaus Sholihin sendiri adalah salah satu pondok pesantren yang mempunyai komitmen kebangsaan dan bernegara, dan juga berpaham ahlussunnah wal jamaah. Setelah menggali data kongkrit dari santri Mambaus Sholihin, peneliti kemudian melakukan penelitian terhadap pemakaian cadar dalam persepktif Husain Muhammad. Dalam berbagai pendapatnya, Husain Muhammad mengatakan bahwa pemakain cadar bagi wanita bukanlah wajib secara mutlak. Namun, juga tergantung pada ‘illat atau tujuan daripada adanya suatu hukum tersebut. Dalam pandangan Husain Muhammad konsep penggunaan cadar atau niqob hanya merupakan tradisi arab, di mana jilbab sebagai pembeda kelas masyarakat yang membedakan antara perempuan merdeka dengan budak. Ayat penggunaan jilbab merupakan ayat yang bersifat temporal, Maka, menurut Husain Muhammad, pemakain cadar adalah sesuatu yang diperbolehkan, namun tidak menjadi hukum wajib dalam Islam.

Statistic

Downloads from over the past year. Other digital versions may also be available to download e.g. from the publisher's website.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Creators:
CreatorsEmailNIM
Masrihah, Lailatulmasrihah9@gmail.comE71214023
Contributors:
ContributionNameEmailNIDN
Thesis advisorMuktafi, Muktafimuktafi.sahal@yahoo.co.id2013086001
Subjects: Aqidah
Aqidah
Wajib Belajar > Aqidah

Islam dan Humanisme
Jilbab
Keywords: Cadar; Mambaus Sholihin; Husain Muhammad.
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Filsafat > Aqidah Filsafat Islam
Depositing User: Lailatul Masrihah
Date Deposited: 13 Sep 2021 10:07
Last Modified: 13 Sep 2021 10:07
URI: http://digilib.uinsby.ac.id/id/eprint/50267

Actions (login required)

View Item View Item