Mamun, Ahmad (2011) WAKTU-WAKTU IJABAT AL-DU`A DALAM PERSPEKTIF HADIS (Studi terhadap Kualitas Hadis). ['eprint_fieldopt_thesis_type_undergraduate' not defined] thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.
cover.pdf
Download (30kB) | Preview
abstrak.pdf
Download (15kB) | Preview
daftarisi.pdf
Download (15kB) | Preview
bab1.pdf
Download (140kB) | Preview
bab2.pdf
Download (250kB) | Preview
bab3.pdf
Download (208kB) | Preview
bab4.pdf
Download (330kB) | Preview
bab5.pdf
Download (19kB) | Preview
daftarpustaka.pdf
Download (22kB) | Preview
Abstract
Setiap orang pasti membutuhkan doa, dan setiap orang yang berdoa selalu menginginkan doanya diterima, padahal doa yang diterima itu adakalanya karena waktunya tepat yang disebut dengan waktu-waktu ijabat al-du`a yang diantaranya telah dijelaskan oleh hadis-hadis dalam al-Kutub al-Tis`ah yaitu hadis-hadis ijabat al-du`a pada waktu sujud (tiga hadis), pada waktu antara adhan dan iqamah (empat hadis), pada waktu thuluth al-layl al-akhir (sembilan hadis) dan pada waktu hari Jum`at (sembilan hadis).
Untuk mengetahui kualitas sanad, matn dan kehujjahan hadis-hadis tersebut dilakukan penelitian kepustakaan dengan pendekatan kritik sanad dan matn hadis. Dari penelitian tersebut dihasilkan sebagai berikut : Pertama, semua hadis Ijabat al-Du`a pada waktu Sujud yang diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud dan Ahmad Ibn Hanbal mempunyai sanad dan matn sahih sehingga semua hadis Ijabat al-Du`a pada waktu Sujud tersebut berkualitas Sahih, Maqbul, dapat dijadikan hujjah (Muhtajj bih) dan diamalkan (Ma`mul bih). Kedua, semua hadis Ijabat al-Du`a pada waktu antara Adhan dan Iqamah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan al-Tirmidhi mempunyai sanad da`if dan matn sahih akan tetapi karena dikuatkan oleh hadis-hadis lain yang diriwayatkan oleh al-Nasai dan Ahmad Ibn Hanbal yang mempunyai sanad dan matn sahih sebagai mutabi`-nya, maka hadis tersebut naik menjadi Hasan li Ghayrihi sehingga semua hadis Ijabat al-Du`a pada waktu antara Adhan dan Iqamah tersebut berkualitas Sahih, Maqbul, dapat dijadikan hujjah (Muhtajj bih) dan diamalkan (Ma`mul bih). Ketiga, hadis Ijabat al-Du`a pada waktu Thuluth al-Layl al-Akhir yang diriwayatkan oleh al-Tirmidhi mempunyai sanad da`if dan matn sahih akan tetapi karena dikuatkan oleh hadis-hadis lain yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibn Majah, Malik, Ahmad Ibn Hanbal dan al-Darimi yang mempunyai sanad dan matn sahih sebagai mutabi`-nya, maka hadis tersebut naik menjadi Hasan li Ghayrihi sehingga semua hadis Ijabat al-Du`a pada waktu Thuluth al-Layl al-Akhir tersebut berkualitas Sahih, Maqbul, dapat dijadikan hujjah (Muhtajj bih) dan diamalkan (Ma`mul bih). Keempat, semua hadis Ijabat al-Du`a pada waktu hari Jumat yang diriwayatkan oleh al-Tirmidhi, Ibn Majah dan al-Darimi mempunyai sanad da`if dan matn sahih akan tetapi karena dikuatkan oleh hadis-hadis lain yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, al-Nasai, Malik dan Ahmad Ibn Hanbal yang mempunyai sanad dan matn sahih sebagai mutabi` atau shahid-nya, maka hadis-hadis tersebut naik menjadi Hasan li Ghayrihi sehingga semua hadis Ijabat al-Du`a pada waktu hari Jumat tersebut berkualitas Sahih, Maqbul, dapat dijadikan hujjah (Muhtajj bih) dan diamalkan (Ma`mul bih)
| Item Type: | Thesis (['eprint_fieldopt_thesis_type_undergraduate' not defined]) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Waktu Ijabah; Doa |
| Subjects: | Tafsir > Tasfir Hadis |
| Divisions: | Program Magister > Tafsir Hadis |
| Depositing User: | Editor: Library Administrator----- Information-----http://library.uinsa.ac.id |
| Date Deposited: | 14 Feb 2012 |
| Last Modified: | 07 Apr 2015 08:51 |
| URI: | http://digilib.uinsby.ac.id/id/eprint/9592 |
