Novi Widiyana, N (2026) Makanan telur hột vịt lộn menurut perspektif teori fikih Ibnu Ḥajar Al-Haitami dan Ibnu Ḥazm. ['eprint_fieldopt_thesis_type_undergraduate' not defined] thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.
Novi Widiyana_05020522034.pdf
Download (7MB)
Novi Widiyana_05020522034_Full.pdf
Restricted to Repository staff only until 8 April 2029.
Download (7MB)
Abstract
Semakin berkembangnya zaman dan teknologi digital mengakibatkan peningkatan budaya asing yang masuk ke Indonesia. Produk impor kini menjadi bagian penting yang sulit terlepaskan dari kehidupan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Salah satunya produk makanan asing yang masuk ke Indonesia yaitu telur Hột Vịt Lộn atau dikenal balut kini menjadi persoalan serius karena didalamnya terdapat embrio dan juga keberadaannya tidak tercantum label halal sehingga menimbulkan unsur gharar terhadap kehalalan maupun keharamannya. Oleh karena itu, tujuan dari penelian ini ialah untuk mengetahui praktik pengolahan makanan telur Hột Vịt Lộn berupaya juga dapat menentukan usia pada telur yang kemudian menentukan hukum mengonsumsi telur tersebut menggunakan perspektif teori fikih Ibnu Ḥajar al-Haitami dan Ibnu Ḥazm. Pada penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian empiris yang bertumpu pada uji pengamatan penentuan hasil usia telur dan pustaka sebagai data penguat secara mendalam. Sumber data penelitian ini terdiri dari sumber data primer dari uji pengamatan oleh pakar biologi bidang embrio. Dan dikuatkan dengan data skunder dari bahan pustaka yang relevan dengan objek yang dikaji. Adapun teknik penelitian ini bersifat kualitatif yang menitikberatkan pada analisis atau interpretasi data penelitian. Data tersebut disusun secara jelas dan sistematis kemudian dianalisis dengan membandingkan (studi komparatif) pendapat Ibnu Ḥajar al-Haitami dan Ibnu Ḥazm. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan: Pertama, telur Hột Vịt Lộn merupakan telur ayam berusia 3 hari yang diinkubasi sampai usia hari hingga berbentuk embrio. Jenis embrio pada telur Hột Vịt Lộn tersebut belum terbentuk secara sempurna, di dalam telur hanya berisi darah dan gumpalan daging. Kedua, Ibnu Ḥajar al-Haitami memperbolehkan untuk memakannya tanpa membuang benda yang najis selama embrio belum berbentuk secara sempurna. Namun jika sengaja memisahkan benda najis pada telur untuk memakan bagian yang najis saja maka hukumnya haram. Ibnu Ḥazm memperbolehkan memakan bagian isi telur, sedangkan darah dan embrio baik yang sudah terbentuk sempurna maupun belum sempurna harus dibuang Sesuai pada kesimpulan di atas, saran yang pertama ialah para konsumen disarankan untuk membuang benda yang najis sesuai pendapat Ibnu Ḥazm sebagaimana beliau berpendapat untuk memakan bagian isi telur saja. Hal ini menunjukkan sikap kehati-hatian untuk menghindari sesuatu yang bersifat najis. Kedua, Jika terjadi keraguan dalam mengonsumsi, sebaiknya lebih baik dihindari tetapi juga tidak sepatutnya menghukumi haram bagi orang yang ingin mengonsumsi.
| Item Type: | Thesis (['eprint_fieldopt_thesis_type_undergraduate' not defined]) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Produk impor; telur Hột Vịt Lộn |
| Subjects: | Hukum Islam Hukum Islam Perbandingan Madzhab |
| Divisions: | Fakultas Syariah dan Hukum > Perbandingan Madzhab |
| Depositing User: | Novi widiyana |
| Date Deposited: | 08 Apr 2026 05:52 |
| Last Modified: | 08 Apr 2026 05:52 |
| URI: | http://digilib.uinsby.ac.id/id/eprint/89437 |
