Ulfah, Isnatin (2023) Sejarah dan dinamika keberagamaan islam masyarakat Klepu Sooko Ponorogo. ['eprint_fieldopt_thesis_type_phd' not defined] thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.
Isnatin Ulfah_F23416127 OK.pdf
Download (6MB)
Isnatin Ulfah_F23416127 Full.pdf
Restricted to Repository staff only until 27 March 2029.
Download (6MB)
Abstract
Diskursus studi tentang Islam di Jawa terdapat banyak keunikan dan kerumitan yang justru menjadi pematik untuk diteliti lebih lanjut. Adalah Klepu salah satu desa di Ponorogo yang terkenal dengan toleransinya yang kuat antara Islam dan Katolik. Hal ini karena mereka berhasil mengelolahnya dengan baik dengan modal sosial ‘podo Jowone’. Namun dalam perjalanannya, kelompok-kelompok puritan hadir membuyarkan bangunan toleransi tersebut. Bagi puritan, modal sosial yang dipraktikkan masyarakat Klepu tersebut identik dengan kejawen dan abangan yang harus dimurnikan. Akibat kehadiran mereka keagamaan Islam masyarakat Klepu hari ini mengalami polarisasi. Hal ini menimbulkan kegelisahan akademis bagi peneliti, yang kemudian dirumuskan:: 1) Bagaimana sejarah perkembangan keberagamaan Islam di masyarakat Klepu Sooko Ponorogo? 2) Bagaimana dinamika keberagamaan Islam Masyarakat Klepu Sooko?. Guna menjawab persoalan tersebut, disertasi ini menggunakan kerangka teori difusi dan hibrida untuk melihat proses penyebaran budaya dari individu ke individu lain maupun masyarakat, dan silang budaya antar individu dan masyarakat. Adapun perangkat analisis yang digunakan adalah pendekatan fenomologi, antropologi, fisafat sejarah serta kontinuitas dan diskontinuitas. Dua pendekatan pertama dimanfaatkan untuk memotret kehidupan di masyarakat Klepu menurut pandangan mereka. Sedangkan pendekatan filsafat sejarah membedah kontruksi kesajarahan yang membentuk kesejarahan keagamaan masyarakat Klepu. Sedang yang terakhir digunakan untuk menganalisis dinamika keagamaan yang menyebabkan polarisasi. Disertasi ini menghasilkan temuan: 1) Sejarah Islam masyarakat Klepu, sebagaimana masyarakat Jawa pada umumnya mengalami domestifikasi antara ajaran yang genuine bersentuhan dengan kejawaan. Agama ini oleh para teoretis dilabeli kejawen dan abangan yang dianggap sebagai Islam yang tidak murni bahkan bukan Islam, sehingga menjadi faktor pendorong hadirnya da'i baru di Klepu untuk memurnikan Islam. Akibatnya, keagamaan masyarakat Islam Klepu mengalami polarisasi. 2) Dinamika Islam di Klepu mengalami fase perkembangan dari tasawuf kultural, secara kontinuitas bergeser ke kejawen, dan diskontinuitas bergeser ke abangan. Dari kedua identitas tersebut terus mengalami perkembangan yang dinamis dan terpolarisasi menjadi: a) Kejawen, di mana Islam bergulat dengan tradisi lokal. b) Abangan, tidak menjalankan syariat Islam karena memraktikkan ajaran Jawa seperti aliran Sapto Darmo. c) Tradisional konservatif, resisten dengan Islam abangan tetapi masih melakukan ritual tradisional, seperti aktivitas Jamaah Tabligh. d) Tradisional progresif, reaksi terhadap kehadiran kelompok puritan dengan berupaya melestarikan tradisi dari serangan kelompok puritan. e) Puritan adaptif, puris namun adaptif dengan tradisi lokal agar aktivitas dan dakwahnya bisa diterima masyarakat. f) Puritan konservatif, anti tradisi lokal yang sinkretis karena dianggap musyrik dan bid’ah.
| Item Type: | Thesis (['eprint_fieldopt_thesis_type_phd' not defined]) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Dinamika Keberagamaan; Kejawen; Abangan; Islam Tradisional; dan Puritan. |
| Subjects: | Sejarah Peradaban Islam Sejarah |
| Divisions: | Program Doktor > Studi Islam |
| Depositing User: | Isnatin Ulfah |
| Date Deposited: | 27 Mar 2026 07:27 |
| Last Modified: | 27 Mar 2026 07:27 |
| URI: | http://digilib.uinsby.ac.id/id/eprint/89042 |
