Tradisi nyusuki lemah dalam pembagian harta peninggalan perspektif hukum Islam: studi Kasus di Desa Batembat Kecamatan Pace Kabupaten Nganjuk

Wulandari, Nurul Via (2025) Tradisi nyusuki lemah dalam pembagian harta peninggalan perspektif hukum Islam: studi Kasus di Desa Batembat Kecamatan Pace Kabupaten Nganjuk. ['eprint_fieldopt_thesis_type_undergraduate' not defined] thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

[thumbnail of Nurul Via Wulandari_05020122082.pdf] Text
Nurul Via Wulandari_05020122082.pdf

Download (10MB)
[thumbnail of Nurul Via Wulandari_05020122082_Full.pdf] Text
Nurul Via Wulandari_05020122082_Full.pdf
Restricted to Repository staff only until 24 December 2028.

Download (10MB)

Abstract

Tradisi nyusuki lemah merupakan praktik pembagian harta peninggalan yang masih dipertahankan masyarakat Desa Batembat, di mana harta peninggalan berupa tanah atau rumah tidak dibagi secara fisik, tetapi diganti dengan pemberian sejumlah uang berdasarkan kesepakatan keluarga. Tradisi pembagian harta peninggalan nyusuki lemah merupakan praktik turun-temurun di Desa Batembat, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh dua rumusan masalah: (1) bagaimana pelaksanaan tradisi nyusuki lemah dalam pembagian harta peninggalan di Desa Batembat; dan (2) bagaimana perspektif hukum Islam dalam menilai tradisi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana tradisi nyusuki lemah dipraktikkan dalam pembagian harta peninggalan dan menganalisisnya dalam perspektif hukum Islam. Penelitian ini adalah penelitian hukum empiris dengan pendekatan sosio-legal, menggunakan Penelitian pola deduktif, yaitu analisis dimulai dari konsep umum berupa Maqāṣid al-sharī‘ah dalam hukum Islam, kemudian ditarik kesimpulan yang bersifat khusus terkait Tradisi Pembagian Harta Peninggalan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan nyusuki lemah dilakukan melalui musyawarah keluarga tanpa melibatkan tokoh agama atau aparat desa, kecuali ketika muncul sengketa. Tradisi ini dilakukan dalam dua bentuk, yaitu sebelum dan sesudah pewaris meninggal, dan dipertahankan karena dianggap lebih praktis, adil, serta sesuai dengan kondisi sosial-ekonomi masyarakat. Dalam perspektif Maqāṣid al-sharī‘ah, pembagian harta peninggalan melalui tradisi nyusuki lemah di Desa Batembat tidak sepenuhnya selaras dengan aspek ḥifẓ al-māl secara normatif karena tidak mengikuti ketentuan kewarisan Islam. Namun, dari sisi kemaslahatan sosial, tradisi ini mencerminkan upaya menjaga keharmonisan keluarga dan mencegah konflik melalui musyawarah dan kesepakatan bersama. Oleh karena itu, praktik nyusuki lemah lebih relevan dengan tujuan ḥifẓ al-nasl pada tingkat kemaslahatan al-ḥājiyyāt, sebagai praktik adat yang berorientasi pada kemaslahatan keluarga tanpa menggantikan hukum waris Islam. Penelitian ini merekomendasikan agar masyarakat tetap mempertimbangkan ketentuan hukum kewarisan Islam dalam praktik pembagian harta peninggalanan, serta memastikan musyawarah dan kerelaan seluruh pihak tetap menjadi dasar pelaksanaannya. Peneliti selanjutnya diharapkan memperluas kajian pada faktor sosial, ekonomi, dan dinamika keluarga di wilayah yang lebih beragam. Pihak berwenang juga diharapkan meningkatkan edukasi dan sosialisasi mengenai pembagian harta peninggalan yang adil dan sesuai prinsip syariat agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam pelaksanaannya.

Item Type: Thesis (['eprint_fieldopt_thesis_type_undergraduate' not defined])
Uncontrolled Keywords: Tradisi nyusuki lemah; harta peninggalan; maqāṣid al-sharī‘ah
Subjects: Ahli Waris
Hukum Islam > Waris
Tradisi
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Hukum Keluarga Islam
Depositing User: Nurul Via Wulandari
Date Deposited: 24 Dec 2025 04:04
Last Modified: 24 Dec 2025 04:04
URI: http://digilib.uinsby.ac.id/id/eprint/85518

Actions (login required)

View Item
View Item