Aniq, Ahmad Fathan (2012) KONFLIK PERAN GENDER PADA TRADISI MERARIK DI PULAU LOMBOK. In: Conference Proceedings: Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) XII, 5 – 8 November 2012, Surabaya – Indonesia.
Buku 5 Fix bagus_18.pdf
Download (424kB) | Preview
Abstract
Kawin lari pada masyarakat Sasak dikenal dengan istilah merarik. Dalam tradisi ini, seorang gadis dibawa lari atau “diculik” terlebih dahulu dari “kekuasaan” orang tuanya sebelum prosesi pernikahan secara agama dan adat dilangsungkan. Dengan penculikan tersebut, seorang lelaki Sasak akan dianggap lebih berwibawa karena telah berani mengambil resiko, yakni kalau sampai tindakannya diketahui oleh orang tua si gadis ataupun bila pilihannya ditolak oleh orang tuanya sendiri. Oleh karena itu, berani melakukan kawin lari merupakan simbol maskulinitas yang diharapkan ada pada setiap lelaki Sasak dan disanalah peran gender mereka dilekatkan oleh budaya Sasak. Namun di sisi lain, sebagian masyarakat mulai mempertanyakan eksistensi tradisi merarik yang dianggap menomorduakan perempuan. Pada titik inilah terjadi konflik peran gender pada masyarakat Sasak. Fenomena merarik seakan mengindikasikan bahwa ada legitimasi para lelaki Sasak yang menginginkan agar budaya ini tidak hilang. Maka, melalui teori konflik peran gender, artikel ini akan mencoba mengkaji bagaimana sebenarnya masyarakat Sasak memikirkan tentang “realitas budaya” merarik mereka.
| Item Type: | Conference or Workshop Item (Paper) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Kawin lari; masyarakat patriarkat; pemaksaan perempuan |
| Subjects: | Gender Nikah |
| Divisions: | Karya Ilmiah > Conference |
| Depositing User: | Editor : Abdun Nashir------ Information------library.uinsby.ac.id |
| Date Deposited: | 03 Aug 2016 02:48 |
| Last Modified: | 03 Aug 2016 02:48 |
| URI: | http://digilib.uinsby.ac.id/id/eprint/7578 |
