Sanksi tindak pidana peredaran kosmetik ilegal di Indonesia: telaah undang-undang nomor 8 tahun 1999 dan undang-undang nomor 17 tahun 2023

Fitriani, Rahma Eka (2024) Sanksi tindak pidana peredaran kosmetik ilegal di Indonesia: telaah undang-undang nomor 8 tahun 1999 dan undang-undang nomor 17 tahun 2023. ['eprint_fieldopt_thesis_type_undergraduate' not defined] thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

[thumbnail of Rahma Eka Fitriani_05020320054 OK.pdf] Text
Rahma Eka Fitriani_05020320054 OK.pdf

Download (3MB)
[thumbnail of Rahma Eka Fitriani_05020320054 Full.pdf] Text
Rahma Eka Fitriani_05020320054 Full.pdf
Restricted to Repository staff only until 14 June 2027.

Download (3MB)

Abstract

Terdapat dua peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang sanksi tindak pidana peredaran kosmetik ilegal, yaitu Undang-Undang Normor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Kedua undang-undang tersebut memiliki peraturan yang mengatur sanksi pidana bagi pelaku peredaran kosmetik ilegal. Selain diatur dalam hukum positif, tindak pidana peredaran kosmetik ilegal juga diatur dalam hukum pidana Islam yang sanksinya berupa hukuman takzir. Dengan latar belakang tersebut, rumusan masalah yang muncul adalah tentang penetapan sanksi tindak pidana peredaran kosmetik ilegal di Indonesia menurut UU Nomor 8 Tahun 1999 dan UU Nomor 17 Tahun 2023, serta pandangan hukum pidana Islam terhadap tindak pidana peredaran kosmetik ilegal. Metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum yuridis Normatif dengan pendekatan perundang-undangan (statue approach), yang memusatkan analisis pada peraturan atau undang-undang yang tertulis. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang kerangka hukum yang mengatur sanksi bagi pelaku peredaran kosmetik ilegal di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 maupun Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 memberlakukan sanksi pidana bagi mereka yang terlibat dalam peredaran kosmetik ilegal. Dalam konteks ini, lebih relevan untuk merujuk pada Undang-Undang Kesehatan karena lebih baru, memiliki ketentuan khusus terkait kosmetik, ancaman hukuman yang lebih serius, serta pengaturan sanksi yang lebih luas. Serta dalam hukum Islam pelaku peredaran kosmetik ilegal dapat dikenakan hukuman takzir. Berdasarkan temuan di atas rekomendasi penulis adalah agar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menjalankan inspeksi aktif terhadap produsen, pengecer, dan distributor guna memastikan keamanan produk. Diperlukan juga upaya peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menggunakan produk kosmetik yang telah terdaftar secara resmi. Hal ini bertujuan untuk melindungi konsumen dari risiko penggunaan produk kosmetik ilegal yang berpotensi membahayakan kesehatan.

Item Type: Thesis (['eprint_fieldopt_thesis_type_undergraduate' not defined])
Uncontrolled Keywords: sanksi; tindak pidana; peredaran kosmetik ilegal; UU nomor 8 tahun 1999; UU nomor 17 tahun 2023
Subjects: Ekonomi Islam
Hukum Islam
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Hukum Pidana Islam
Depositing User: Rahma Eka Fitriani
Date Deposited: 14 Jun 2024 02:45
Last Modified: 14 Jun 2024 02:45
URI: http://digilib.uinsby.ac.id/id/eprint/70587

Actions (login required)

View Item
View Item