Dialektika teologis penafsiran reformis tentang soteriologi non muslim

Aziz, Hayatullah Hilmi (2024) Dialektika teologis penafsiran reformis tentang soteriologi non muslim. Masters thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

[thumbnail of Hayatullah Hilmi Aziz_02040522067.pdf] Text
Hayatullah Hilmi Aziz_02040522067.pdf

Download (2MB)
[thumbnail of Hayatullah Hilmi Aziz_02040522067_Full.pdf] Text
Hayatullah Hilmi Aziz_02040522067_Full.pdf
Restricted to Repository staff only until 24 April 2027.

Download (2MB)

Abstract

Pada abad 19 dan 20, para pakar muslim reformis mulai bergeser pada pemahaman bahwa penganut agama lain selain Islam, punya potensi mendapat keselamatan. Namun, beberapa reformis lain masih ada yang berpegang teguh dengan pemahaman tradisional yaitu keselamatan hanya didapatkan oleh penganut agama Islam saja. Oleh karena itu, perlu menelusuri pro-kontra ini meliputi ayat-ayat yang menjadi perdebatan di kalangan reformis, penafsiran-penafsiran mereka tentang keselamatan non muslim, serta dialektika yang terjadi antara mereka. Ada empat tafsir yang menjadi sumber utama, yaitu, Tafsir al-Manar karya Rashid Rida, Tafsir al-Azhar karya Hamka, Mahasin al-Ta’wil karya al-Qasimi, dan al-Tah}rir wa al-Tanwir karya Ibnu ‘Ashur. Empat alasan tokoh-tokoh ini di kaji. Pertama, tergolong ideologi Sunni. Kedua, terpengaruh ‘Abduh. Ketiga, melakukan ide pembaharuan Islam dengan menerapkan metode klasik. Keempat, terjadi kesenjangan pemikiran tentang keselamatan non muslim. Penelitian ini berbasis metode komparatif dengan kerangka epistemologi, serta pendekatan historis-filosofis. Kesimpulannya adalah, pertama, ayat-ayat Al-Qur’an tentang soteriologi non muslim bisa disederhanakan menjadi tiga, yaitu: QS. 2:62, 3:19, dan 3:85. Kedua, menurut Rida, Yahudi, Nasrani, dan Sabi’in punya potensi mendapat keselamatan selama mengimani Allah, hari akhir, dan beramal saleh. Inilah yang penting, sehingga tidak perlu ada syarat keimanan pada Nabi Muhammad. Hamka hampir berpandangan sama dengan Rida, namun nampak membingungkan ketika ia mensyaratkan keimanan pada Nabi Muhammad. Al-Qasimi berpandangan, keselamatan juga berlaku kepada Yahudi, Nasrani, dan Sabi’in, namun itu tidak berlaku lagi setelah munculnya Islam sebagai agama yang dibawa Nabi Muhammad. Ibnu ‘Ashur, memiliki pemahaman yang sama dengan al-Qasimi bahkan lebih tegas. Ketiga, Rida, Hamka, dan Ibnu ‘Ashur menolak QS. 3:85 menasakh QS. 2:62, sedangkan al-Qasimi menerima. Menolak nasakh lebih diunggulkan, sebab, Ibnu ‘Abbas tidak menggunakan diksi "nasakhat" atau "mansukhah" seperti yang biasa ia gunakan. Rida, Hamka, dan al-Qasimi memaknai “islam” secara universal sedangkan Ibnu ‘Ashur memahami identitas. Lebih tepat memaknai “islam” pada QS. 3:19 dan 3:85 dengan identitas. Sebab, nama “Islam” sudah di-branding Nabi dari awal masa pewahyuan sebagai nama dari agama yang ia bawa. Rida meniadakan syarat iman kepada Nabi Muhammad, sedangkan Hamka, al-Qasimi dan Ibnu ‘Ashur mensyaratkanya. Pandangan Ibnu ‘Ashur lebih unggul, aneh jika percaya pada Allah tetapi tidak percaya Nabi. Sebab, Nabi adalah pembawa pesan Allah, jika pesan itu diingkari, berarti sama saja mengingkari Allah. Diharapkan peneliti selanjutnya bisa menjelaskan motif sikap mendua Hamka dan perlu dikaji tokoh Sunni dengan syi’ah modern yang memiliki pemahaman sama tetapi di kalangan Syi’ah sendiri justru mengalami pro-kontra.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Reformis muslim; soteriologi non muslim; penafsiran; dialektika teologis
Subjects: Pemikiran
Al Qur'an
Divisions: Program Magister > Ilmu Alquran dan Tafsir
Depositing User: Hayatullah Hilmi Aziz
Date Deposited: 24 Apr 2024 05:47
Last Modified: 24 Apr 2024 05:47
URI: http://digilib.uinsby.ac.id/id/eprint/68922

Actions (login required)

View Item
View Item