Sulistyawati, Ima Yuliana (2023) Analisis hukum islam terhadap penggunaan Flex Menstrual Disc dalam hubungan seksual suami istri. ['eprint_fieldopt_thesis_type_undergraduate' not defined] thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.
Ima Yuliana Sulistyawati_05040120115 OK.pdf
Download (504kB)
Ima Yuliana Sulistyawati_05040120115 Full.pdf
Restricted to Repository staff only until 8 January 2027.
Download (6MB)
Abstract
Jenis penelitian ini termasuk dalam kategori empiris-normatif, karena data yang diperoleh melalui teknik library research disertai interview kepada tenaga medis. Teknik analisis data penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif yang selanjutnya disusun secara sistematis sehingga menjadi data yang detail hingga membahas batasan menjima’ ketika wanita sedang menstruasi. Selanjutnya data tersebut diolah dan dianalisis menggunakan hukum Islam disertai dengan pendapat empat imam madzhab. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan: pertama, alat ini seakan-akan dapat membuktikan menstruasi dengan cara memasukkan flex menstrual disc ke dalam lubang vagina agar darah tidak meluber kemana-mana. Namun, pandangan flex menstrual disc, baik dari pengguna maupun tenaga medis menuai pro dan kontra. Beberapa pengguna yang telah mencoba alat ini berpendapat bahwa alat ini nyaman, elastis, ringan dipakai beraktivitas ketika darah haid keluar, namun pengguna yang lain kontra dengan argumen agama melarangnya. Sedangkan, menurut tenaga medis, alat ini belum memiliki izin dan sertifikasi secara sempurna di Indonesia. Kedua, dalam hukum Islam memang sudah secara jelas keharamannya menjima’ istri saat menstruasi tertuang pada Q.S. Al Baqarah: 222, namun para empat imam madzhab mempunyai fatwa dan batasan tersendiri dalam menjima’ istrinya yang sedang haid. Jumhur ulama’ sepakat menyatakan haram ketika menjima’ istrinya yang sedang menstruasi, begitu juga saat istihadhah, karena dianggap sama seperti darah penyakit. Namun lainnya menyatakan haram, akan tetapi jika berjima’ ketika istihadhah diperbolehkan dengan dalil darah istihadhah berbeda dengan darah haid. Walaupun dalam nash al-Qur’an tidak diperbolehkan berjima’ ketika haid, akan tetapi kemungkinan dengan memakai alat ini dapat digunakan persetubuhan ketika istrinya haid, karena menghambat darah haid mengalir seakan-akan darah tersebut berhenti. Sejalan dengan uraian diatas, penulis menyarankan kepada seluruh tenaga medis di Indonesia, jika ingin mengeluarkan inovasi baru, sebelum disebar luaskan kepada orang awam, maka harus di uji standard dan harus memiliki sertifikasi terlebih dahulu agar masyarakat yakin bahwa flex menstrual disc aman digunakan disertai dengan hukum agama masing-masing. Dan penulis menyarankan kepada pengguna alat ini agar lebih baik menunggu siklus menstruasinya berhenti dahulu lalu melakukan persetubuhan dengan suaminya, agar tidak menimbulkan resiko kesehatan dan juga hukum agamanya.
| Item Type: | Thesis (['eprint_fieldopt_thesis_type_undergraduate' not defined]) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | flex menstrual disc; Seksual; Pernikahan |
| Subjects: | Fikih > Fikih Mazhab Empat Keluarga > Keluarga Islam Kedokteran > Kedokteran dan Agama Wanita dalam Islam |
| Divisions: | Fakultas Syariah dan Hukum > Hukum Keluarga Islam |
| Depositing User: | Ima Yuliana Sulistyawati |
| Date Deposited: | 08 Jan 2024 04:03 |
| Last Modified: | 08 Jan 2024 04:03 |
| URI: | http://digilib.uinsby.ac.id/id/eprint/67166 |
