Roziqin, Ahmad Khoirur (2010) مفهوم الشفاء في القران: دراسة تحليلية عن معنى كلمة الشفاء عند الالوسي في روح المعاني Konsep Syifa dalam AL Quran: studi analitis atas makna kata Syifa menurut Al Alusi dalam Ruhul Maani. ['eprint_fieldopt_thesis_type_undergraduate' not defined] thesis, IAIN Sunan Ampel Surabaya.
Ahmad Khoirur Roziqin_E53206002.pdf
Download (5MB)
Abstract
Sebagai mukjizat Nabi Muhammad saw. yang terbesar, al-Quran memiliki fungsi utama sebagai petunjuk bagi umat manusta (Qs. 2:2). Disamping itu, ia juga memiliki fungsi lain yang juga dinyatakan oleh al-Quran tentang dirinyN yattu sebagai syifa (obat/penyembuh). Dalam memahami fungsi al-Quran sebagat sytta' ini, terdapat perbedaan di kalangan ulama tentang sysfa yang dimaksud oleh al-Quran. Sebagian ulama memahami bahwa syifa yang dimaksud adalah sebagai penyembuh bagi penyakit rohani saja, sedangkan yang lainnya memahami bahwa sytfa itu juga berfungsi sebagai obat atas penyakit jasmani. Untuk mendapatkan pemahaman yang leblh Jelas tentang fungsi syifa' dalam al-Quran tersebut, dalam skripsi berikut ini dibahas tentang makna kata syifa' yang terdapat dalam al-Quran menurut pemahaman al-Alusi—seorang penafsir yang hidup pada awal abad 19 Maseht,. zaman peralihan kejumudan tradisi keilmuan Islam menuju era awal kebangkitannya—yang terdapat dalam kitab tafsirnya Ruhul Ma'ani fi tafsiril qur'anil adzim wa sab'il matsani dengan pendekatan metode analisis atas penafsiran beliau terhadap makna syifa' dalam al-Quran, Kata syifa' dalam al-Quran terdapat pada empat ayat, tiga diantaranya berkaitan dengan karakteristik al-Quran, yaitu dalam surat Yunus: 57, surat al-Isra':82, dan surat Fushilat 44. sedangkan yang satu ayat berkaitan dengan madu yaitu pada surat an-Nahl: 69. Kata syifa' yang terdapat dalam al-Quran selalu dihubungkan dengan manusia baik secara langsung, yaitu dengan menyebutkan sifat manusia maupun dengan menyebutkan anggota tubuhnya yaitu dada (shudur). Oleh karena nu, pembahasan tentang makna sylfa' tidak bisa dipisahkan dengan hakikat manusia itu sendiri. Dalam pandangan al-Atusi, hakikat manusia terdiri dari dua hal: ruh ijismun nuraniyyun) dan raga vang kasat (jismun mahsus). Masing-masing dari keduanya tidak dapat dipisahkan disamping adanya saling keterpengaruhan antara hal yang menimpa pada satu bagian akan berpengaruh pada yang lainnya. Meskipun dalam keduanya terdapat hubungan sahng berkaitan yang tak terpisahkan tetapi al-Alusi menekankan bahwa sumber dan penggerak utama bagi seluruh anggota manusia adalah ruh (jismun nuraniyyun)-nya yang terdapat dalam hatinya. Bahkan kesengsaraan dan kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat ditentukan oleh keadaan ruhnya. Oleh karena itu, al-Alusi memahami bahwa makna syifa’ yang berkaltan dengan karakteristik al-Quran bermakna obat atas penyakit hati, sedangkan syifa' yang dinisbatkan pada madu bermakna obat penyakit jasmani. Meskipun bagi syifai yang dinisbatkan pada al-Quran memiliki makna / kesembuhan bagi penyakit hati, tetapi al-Alusi tidak menampik adanya kesembuhan penyakit jasmani dengan ayat al-Quran karena pada dasarnya syifa' yang terdapat al-Quran maupun madu merupakan penjabaran atas dua ayat Allah, yaitu ayat kalamiah yang berasal dari Allah pencipta alam dan ayat kauniah yang berasal dari alam. Barang siapa berhasil menggapai keduanya maka tercapailah baginya kesembuhan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
| Item Type: | Thesis (['eprint_fieldopt_thesis_type_undergraduate' not defined]) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Al Qura; Syifa; Al Alusi; ruhul maani |
| Subjects: | Tafsir > Tafsir Al Qur'an |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin dan Filsafat > Tafsir Hadis |
| Depositing User: | Editor : Abdun Nashir------ Information------library.uinsby.ac.id |
| Date Deposited: | 25 May 2022 07:19 |
| Last Modified: | 25 May 2022 07:19 |
| URI: | http://digilib.uinsby.ac.id/id/eprint/53397 |
