Rahmatullah, Muhammad (2015) DUALISME DALAM KESATUAN UNTUK MENCAPAI MA’RIFAT PERSPEKTIF KH. ASRORI ISHAQI. Masters thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.
Cover.pdf
Download (742kB) | Preview
Abstrak.pdf
Download (230kB) | Preview
Daftar Isi.pdf
Download (313kB) | Preview
Bab 1.pdf
Download (525kB) | Preview
Bab 2.pdf
Download (602kB) | Preview
Bab 3.pdf
Restricted to Registered users only
Download (423kB)
Bab 4.pdf
Restricted to Registered users only
Download (510kB)
Bab 5.pdf
Download (236kB) | Preview
Daftar Pustaka.pdf
Download (279kB) | Preview
Abstract
Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan (library research), yakni penelitian yang menjadikan bahan pustaka sebagai sumber (data) utama. Sumber-sumber primernya yaitu karya-karya KH. Asrori Ishaqi yang berhubungan dengan dualisme dalam kesatuan untuk mencapai ma’rifat, seperti kitab al-Muntaqabat fi Robithotil Qolbiyah wa Shilatir Ruhaniyah yang berjumlah lima jilid dan karya KH. Asrori Ishaqi lainnya. Sementara sumber-sumber Sekunder yaitu data-data pendukung yang berkaitan dengan pokok masalah penelitian ini, berupa buku, ensiklopedia, kamus, majalah, jurnal, serta karya-karya pengarang lain yang membahas teori-teori yang berkaitan dengan dualisme dalam kesatuan untuk mencapai ma’rifat. Dengan demikian penelitian ini akan mengungkap konsep dualisme dalam kesatuan dan ma’rifat menurut KH. Asrori Ishaqi.
Hasil penelitian menemukan bahwa dualisme dalam kesatuan untuk mencapai ma’rifat prespektif KH. Asrori Ishaqi terdapat dalam konsepnya tentang Tuhan, melalui al-Ahad dan al-Wahid serta al-Wujud dan al-Kaun. Ia menyatakan bahwa al-Wujud adalah tidak ada wujud selain wujud Allah Swt, sehingga wujud semua makhluk itu masuk dalam wujudnya Allah, namun Allah memerintahkan agar setiap makhluk menetapi ketetapan-ketetapan dhohir secara syara’, sementara puncak tajalli adalah hati seorang yang ma’rifat kepada Allah Swt. Sedangkan al-Kaun adalah segala yang ada dan yang akan ada yang telah ditakdirkan dan diketahui oleh Allah. Sementara al-Ahad bahwa Allah adalah Esa dalam Dzat-Nya sebelum penampakan Asma’-Asma’ dan sifat-sifat Allah, sedangkan al-Wahid adalah Esa dalam Asma’-Asma’ dan sifat-sifat Allah setelah penampakan Asma’ dan sifat Allah pada makhluk-Nya. Dan hakikat manusia yang menurutnya tercipta atas dua alam, yaitu alam rohani (alam yang kasat mata) dan jasmani (alam yang kasyaf mata). Ia menyatakan bahwa hakikat manusia adalah rohani yang bersemi dan bersemayam di dalam jasad yang kasyaf mata. Dalam alam rohani tersebut terdapat tiga cahaya (nur) yaitu, nur rabbaniyah, nur lahutiyah dan nur jabarutiyah, kemudian alam tersebut terdinding, tertutup dan terhalang oleh sifat basyariyah (sifat kemanusiaan). Sedangkan dalam mencapai ma’rifat KH. Asrori Ishaqi memulainya dengan “ilmu yaqin” yang kemudian dari kata “yaqin” itu dibagi menjadi tiga bentuk, yaitu ilmu yaqin, „ainul yaqin dan haqqul yaqin. KH. Asrori Ishaqi menyatakan bahwa yaqin merupakan bagian dari maqamat. Bahkan ia menempatkan yaqin sebagai maqamat yang kedua setelah ma’rifat. Sementara ma’rifat „ainil yaqin adalah ma’rifat yang dihasilkan dari ayat-ayat dengan bertafakkur pada cakrawala dan apa yang ada di bumi. Dan ma’rifat haqqil yaqin adalah ma’rifat yang dihasilkan dengan mengetahui dan mengerti jiwa yang hanya dapat dihasilkan dengan cahaya (nur) yang menyingkap kesamaran
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Additional Information: | Ma’shum Nur Alim |
| Uncontrolled Keywords: | Dualisme Dalam Kesatuan; Ma’rifat; Tasawuf |
| Subjects: | Filsafat > Filsafat Agama Tasawuf |
| Divisions: | Program Magister > Filsafat Agama |
| Depositing User: | Editor : Abdun Nashir------ Information------library.uinsby.ac.id |
| Date Deposited: | 03 Feb 2016 02:03 |
| Last Modified: | 03 Feb 2016 03:48 |
| URI: | http://digilib.uinsby.ac.id/id/eprint/4421 |
