Tafsir al-Qur’an dan Ideologi: pemikiran keagamaan Mudhar Tamim dalam Tafsir al Qur’anul Karim Nurul Huda

Kamil, Ahmad Zaidanil (2019) Tafsir al-Qur’an dan Ideologi: pemikiran keagamaan Mudhar Tamim dalam Tafsir al Qur’anul Karim Nurul Huda. Masters thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

[thumbnail of Ahmad Zaidanil Kamil_F52517158.pdf] Text
Ahmad Zaidanil Kamil_F52517158.pdf

Download (3MB)

Abstract

Pada prinsipnya, produk tafsir tidak dapat dialienasi dari pergumulan antara mufasir dengan realitas kehidupan yang mengitarinya, baik itu sosial, budaya, politik maupun keagamaan. Proses dialektis panjang ini juga terjadi pada Tafsir Alqur’anul Karim Nurul Huda buah tangan Mudhar Tamim. Sebuah karya tafsir yang merefleksi problem-problem keagamaan awal abad ke-20, tepatnya ketika terjadi persaingan ideologi dua kubu besar, Islam Tradisionalis dan Islam Modernis. Ada indikasi bagaimana persaingan dua ideologi tersebut memiliki pengaruh kuat terhadap sebagian besar penafsiran dalam Tafsir Alqur’anul Karim Nurul Huda. Bertolak dari problem di atas, orientasi penelitian ditujukan untuk memberikan sketsa pemikiran dan pandangan Mudhar Tamim tentang isu-isu keagamaan yang tertuang pada tafsirnya serta posisi Mudhar Tamim dalam peta pemikiran Tafsir al-Qur’an di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang datanya bersumber dari kepustakaan (library research) dan wawancara. Untuk mengungkap pemikiran keagamaan Mudhar Tamim dalam tafsir Alqur’anul Karim Nurul Huda serta posisinya dalam peta pemikiran tafsir di Indonesia, digunakan kerangka teori Islam Tradisionalis dan Islam Modernis dengan pendekatan hermeneutik. Dengan menggunkan metode di atas, penulis mendapatkan beberapa kesimpulan. Pertama, Mudhar Tamim berupaya mempertahankan tradisi-tradisi populer di kalangan mufasir Tradisionalis. Beberapa trasidi itu antara lain adalah bermazhab, akomodatif terhadap hadis-hadis mitologi dan israiliyyat, serta penggunaan ayat-ayat al-Qur’an untuk keperluan magis dan pengobatan. Di satu sisi, Mudhar Tamim sepenuhnya taklid kepada Imam Mazhab –atau dengan kata lain, ia bermazhab. Di lain sisi, Mudhar Tamim menolak untuk taklid kepada kiai. Penolakan ini dilatarbelakangi oleh pandangan Mudhar Tamim tentang otoritas seorang kiai yang sudah bergeser dari tujuan utamanya. Kedua, Mudhar Tamim dapat diposisikan sebagai mufasir sintesis Modernis-Tradisionalis, yaitu Tradisionalis Progresif. ia masih mempertahankan tradisi–tradisi kalangan Islam Tradisionalis, tetapi juga mengintrodusir pembaruan-pembaruan yang berkembang.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Tradisionalis; Modernis; Mudhar Tamim; Alqur’anul Karim Nurul Huda
Subjects: Tafsir
Divisions: Program Magister > Ilmu Alquran dan Tafsir
Depositing User: Kamil Ahmad Zaidanil
Date Deposited: 18 Apr 2019 07:57
Last Modified: 18 Apr 2019 07:59
URI: http://digilib.uinsby.ac.id/id/eprint/31575

Actions (login required)

View Item
View Item