Abdullah, Harun (2015) STUDI PERBANDINGAN PENDAPAT IMAM MALIK DAN IMAM ALAUZA’I TENTANG PENUNDAAN PEMBAYARAN MAHAR. ['eprint_fieldopt_thesis_type_undergraduate' not defined] thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.
Cover.pdf
Download (49MB) | Preview
Abstrak.pdf
Download (206kB) | Preview
Daftar Isi.pdf
Download (221kB) | Preview
Bab 1.pdf
Download (388kB) | Preview
Bab 2.pdf
Download (1MB) | Preview
Bab 3.pdf
Download (619kB) | Preview
Bab 4.pdf
Download (330kB) | Preview
Bab 5.pdf
Download (213kB) | Preview
Daftar Pustaka.pdf
Download (313kB) | Preview
Abstract
Skripsi yang berjudul “Studi Perbandingan Pendapat Imam Malik dan Imam Al-Auza’i Tentang Penundaan Pembayaran Mahar”. Ini merupakan hasil penelitian kepustakaan (Library Research) yang bertujuan untuk menjawab dua pertanyaan mendasar : Bagaimana pendapat Imam Malik dan Imam al-Auza’i tentang penundaan pembayaran mahar? Apa persamaan dan perbedaan pendapat Imam Malik dan Imam al-Auza’i tentang penundaan pembayaran mahar?Data penelitian dihimpun dengan menggunakan teknik dokumentasi (Documentation). Selanjutnya data yang telah dihimpun dianalisis menggunakan metode komparatif, yaitu metode yang bersifat membandingkan. Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan persamaan dan perbedaan yang diteliti berdasarkan kerangka tertentu. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa persamaan pendapat Imam Malik dan Imam al-Auza’i tentang penundaan pembayaran mahar adalah sama-sama membolehkan penundaan pembayaran mahar. Sedangkan perbedaan pendapat Imam Malik dan Imam al-Auza’i adalah Imam Malik berpendapat bahwa beliau membolehkan penundaan pembayaran mahar, namun hanya untuk tenggang waktu yang terbatas dan ia menetapkan batas waktu tersebut. Tetapi ia menganjurkan pembayaran sebagian dimuka manakala hendak menggauli (dukhul) sedangkan Imam al-Auza’i berpendapat bahwa ia membolehkan penundaan pembayaran mahar meskipun sampai kematian atau terjadinya perceraian. Penundaan pembayaran mahar tidak terbatas sebagaimana dalam jual beli karena penundaan pembayaran mahar bersifat ibadah, yang penting suami wajib membayar.Dari kesimpulan di atas disarankan kepada calon pasangan suami istri yang hendak menikah, hendalah melakukan musyawarah untuk mencari kesepakatan kedua belah pihak berkaitan dengan masalah mahar, apakah mahar itu akan diberikan secara tunai atau hutang. Karena kesepakatan itu lebih utama untuk menhindari kemadharatan dan mencari kemaslahatan.
| Item Type: | Thesis (['eprint_fieldopt_thesis_type_undergraduate' not defined]) |
|---|---|
| Additional Information: | Dahlan Bisri |
| Uncontrolled Keywords: | Perbandingan Madhab |
| Subjects: | Perbandingan Madzhab |
| Divisions: | Fakultas Syariah dan Hukum > Hukum Keluarga Islam |
| Depositing User: | Editor : Aries Hamidah------ Information------library.uinsby.ac.id |
| Date Deposited: | 14 Dec 2015 08:49 |
| Last Modified: | 14 Dec 2015 08:51 |
| URI: | http://digilib.uinsby.ac.id/id/eprint/2955 |
