Fawaizi, Miftahud Dafiq (2010) Kewahyuan al-Quran perspektif Nasr Hamid Abu Zayd dan Toshihiko Izutsu. ['eprint_fieldopt_thesis_type_undergraduate' not defined] thesis, IAIN Sunan Ampel Surabaya.
Cover.pdf
Download (422kB) | Preview
Abstrak.pdf
Download (135kB) | Preview
Daftar Isi.pdf
Download (147kB) | Preview
Bab 1.pdf
Download (1MB) | Preview
Bab 2.pdf
Download (2MB) | Preview
Bab 3.pdf
Download (3MB)
Bab 4.pdf
Download (5MB)
Bab 5.pdf
Download (134kB) | Preview
Daftar Pustaka.pdf
Download (351kB)
Abstract
Penelitian ini menjelaskan bagaimana fenomena pewahyuan secara global terjadi sebagaimana dijelaskan dalam al-Quran clan juga fenomena penurunan al-Quran ke dunia. Namun, dalam menjelaskan fenomena wahyu, difokuskan pada penafsiran yang clilakukan oleh Nasr Hamid Abu Zayd dan Toshihiko Izutsu terhadap ayat-ayat yang menjelaskan tentang konsep wahyu. Konsep wahyu merupakan tema sentral dalam kajian 'Ul.um al-Quran. Seorang pengkaji al-Quran maupun 'Ul.um al-Quran harus mengetahui terlebih dahulu terhadap konsep wahyu. Karena, dari keseluruhan teks yang diturunkan oleh Tuhan; termasuk al Quran merupakan bagian dari wahyu. Fenomena wahyu sebenamya telah menjadi bagian dari tradisi kultural masyarakat Jahiliyah. Bukanlah sesuatu yang datang ketika Islam hadir. Dari sini, maka Nasr Hamid Abu Zayd dan Toshihiko Izutsu menggunakan syair-syair Jahiliyah dalam menjelaskan wahyu. Pada masyarakat Jahiliyah, dikenal secara luas tentang kemampuan seseorang untuk berkomunikasi dengan mahluk gaib-seperti para dukun dan para penyair. Namun, kata al-wahy ketika masuk dalam sturuktur konseptual al-Quran mengalami perubahan signifikansi, karena kata al-wahy telah menemukan medan semantiknya yang baru di dalam al-Quran sebagaimana yang dijelaskan oleh lzutsu. Metode yang dipakai dalam penelitian ini menggunakan metode muqaran (perbandingan) clan dalam metode penulisannya menggunakan penelitian kepustakaan. Dalam skripsi ini bermaksud membandingkan antara kewahyuan al-Quran Nasr Hamid Abu Zayd clan Toshihiko Izutsu untuk menemukan pemahaman yang komprehensif mengenai wahyu dalam al-Quran serta perbedaan dan persamaan kewahyuan al-Quran perspektif keduanya. Perbandingan kewahyuan al-Quran kedua tokoh di atas bermaksud mempertemukan pemahaman mereka mengenai kewahyuan al-Quran. Ketika menjelaskan kewahyuan al-Quran, Toshihiko Izutsu menggunakan metode semantik sedangkan Nasr Hamid Abu Zayd dengan metode hermeneutika. Walaupun demikian, bukan berarti Nasr melupakan kajian secara semantis terhadap al-Quran. lzutsu di sini menggunakan metode yang relatif baru untuk menafsirkan al-Quran dengan mengidentifikasi kata fokus tertinggi dalam al-Qman. Penelitian ini menelaah persamaan clan perbedaan konsep wahyu antara keduanya. Pemahaman konsep wahyu antara Nasr dan Izutsu tidak: jauh berbeda. Mereka sama-sama memposisikan al-Quran sebagai teks linguistik agar dapat dipahami oleh seluruh umat manusia. Inilah fungsi rasul (Muhammad) sebagai penyampai (tab/igh) pesan (risalah) Tuhan. Penafsiran keduanya saling menguatkan satu sama lainnya. Perbedaannya hanyalah ketika memahami kata Naby dan Rasul serta hubungannya dengan fenomena wahyu. Pada konteks wahyu al-Quran Nasr juga .memerinci proses komunikasi secara vertikal antara Allah dengan Jibril serta kode pesan yang digunakan. Sedangkan Izutsu hanya memberi penegasan secara global tentang fenomena wahyu al-Quran.
| Item Type: | Thesis (['eprint_fieldopt_thesis_type_undergraduate' not defined]) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Hermeneutik; Semantik; wahyu; al-Qurán |
| Subjects: | Biografi > Biografi Islam Al Qur'an Tafsir |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin dan Filsafat > Tafsir Hadis |
| Depositing User: | Editor : samid library.uinsby.ac.id |
| Date Deposited: | 10 Nov 2017 08:39 |
| Last Modified: | 10 Nov 2017 08:39 |
| URI: | http://digilib.uinsby.ac.id/id/eprint/21167 |
