Makna Tabzir dalam Al Quran Surat Al Isra’ Ayat 26-27

Idris, Idris (2012) Makna Tabzir dalam Al Quran Surat Al Isra’ Ayat 26-27. ['eprint_fieldopt_thesis_type_undergraduate' not defined] thesis, IAIN Sunan Ampel Surabaya.

[thumbnail of Cover.pdf]
Preview
Text
Cover.pdf

Download (463kB) | Preview
[thumbnail of Abstrak.pdf]
Preview
Text
Abstrak.pdf

Download (185kB) | Preview
[thumbnail of Daftar Isi.pdf]
Preview
Text
Daftar Isi.pdf

Download (323kB) | Preview
[thumbnail of Bab 1.pdf]
Preview
Text
Bab 1.pdf

Download (1MB) | Preview
[thumbnail of Bab 2.pdf]
Preview
Text
Bab 2.pdf

Download (261kB) | Preview
[thumbnail of Bab 3.pdf]
Preview
Text
Bab 3.pdf

Download (304kB) | Preview
[thumbnail of Bab 4.pdf]
Preview
Text
Bab 4.pdf

Download (1MB) | Preview
[thumbnail of Bab 5.pdf] Text
Bab 5.pdf

Download (298kB)
[thumbnail of Daftar Pustaka.pdf] Text
Daftar Pustaka.pdf

Download (354kB)

Abstract

Masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah 1) Bagaimana penafsiran QS. Al-Isra’ayat 26-27. 2) Bagaimana makna tabdzirdalam surat Al-Isra' ayat 26-27. 3) Bagaimana hubungan perilaku tabdzir dalam pemenuhan hak terhadap dzawil qurba (karib kerabat)? Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui makna tabdzir dan mengidentifikasi bentuk-bentuk perilaku tabdzir serta hubungannya dalam pemenuhan hak (nafkah) terhadap karib kerabat menurut para mufassir dan para sarjana muslim, sehingga dapat diketahui batasan perilaku tabdzir secara proporsional. Dalam menjawab permasalahan tersebut, penelitian ini bersifat kepustakaan (library research) dan metode tahlili (analitis) yaitu menggambarkan atau menjelaskan penafsiran-penafsiran para mufasir yang berkaitan dengan makna tabdzir dan hubungannya dalam pemenuhan hak (nafkah) terhadap karib kerabat dari seluruh aspek yang terkandung di dalam ayat-ayat Al-Quran, kemudian dikuatkan dengan penafsiran ahli tafsir yang lain. Penelitian ini dilakukan karena ada yang memahami tabdzir hanya terjadi bilamana sebuah perilaku itu adalah batil (haram dalam pandangan syara’). Selain ada yang memahami tabdzir juga bisa teijadi dalam hal mubab (boleh dalam pandangan syara). Hal demikian tentu menjadi sebuah problem tersendiri manakala hams berpegang pada pendapat yang pertama, karena pada sisi yang lain ada ulama yang memperlebar area bat as tabdzir sampai ke dalam hal yang mubab, khususnya dalam sudut pandang Alquran surat Al-Isra’ayat 26-27. Kesimpulan dari penelitian ini adalah perilaku tabdzir dapat dibedakan ke dalam dua hal. Pertama, semua perkara yang batil (haram dalam pandangan syara') merupakan perilaku tabdzir. Kedua, perilaku tabdzir bisa juga terjadi dalam perkara mubab (boleh dalam pandangan syara’). Kemudian, sebuah perkara bisa diidentifikasi sebagai perilaku tabdzir apabila: 1) Batil (haram dalam pandangan syara'). 2) Menghambur-hamburkan sesuatu tanpa ada manfaat (menurut syara'). 3) Israf (berlebihan) yang cenderung kepada kemudaratan/kerusakan. 4) Menunjukkan sikap atau perilaku yang melebihi batas kewajaran. Dalam konteks pemenuhan hak (nafkah) terhadap karib kerabat apabila diidentifikasi salah satu dari unsur-unsur tersebut, maka dapat dikatakan sebagai perilaku tabdzir.

Item Type: Thesis (['eprint_fieldopt_thesis_type_undergraduate' not defined])
Uncontrolled Keywords: Tabdzir; nafkah; karib; kerabat
Subjects: Perilaku
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Filsafat > Tafsir Hadis
Depositing User: Editor : Abdun Nashir------ Information------library.uinsby.ac.id
Date Deposited: 19 Oct 2017 04:01
Last Modified: 04 Oct 2018 09:00
URI: http://digilib.uinsby.ac.id/id/eprint/20691

Actions (login required)

View Item
View Item