Ulfa, Siti Syahyidatul (2017) Makna Fadhl pada surat Al Jumuah Ayat 10: perbandingan Tafsir Sayyid Quthb dan Ibnu Katsir dalam memaknai kata Fadhl. ['eprint_fieldopt_thesis_type_undergraduate' not defined] thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.
Cover.pdf
Download (656kB) | Preview
Abstrak.pdf
Download (1MB) | Preview
Daftar Isi.pdf
Download (3MB) | Preview
Bab 1.pdf
Download (2MB)
Bab 2.pdf
Download (2MB)
Bab 3.pdf
Download (2MB) | Preview
Bab 4.pdf
Download (3MB)
Bab 5.pdf
Download (2MB) | Preview
Daftar Pustaka.pdf
Download (3MB)
Abstract
Allah SWT menciptakan siang dan malam untuk kepentingan manusia. Siang mencari fadhl dan amalmnya untuk istirahat. Selain itu, manusia diciptakan oleh Allah di muka Bumi ini semata-mata untuk bersujud menyembahNya. Sejatinya itulah tujuan manusia hidup di muka Bumi ini. Seperti perintah untuk menunaikan shalat jum’at berjamaah di Masjid, perintah untuk tidak melupakan urusa akhirat dan perintah untuk tidak mengabaikan kewajibannya sebagai manusia, yaitu bekerja keras dan mencari fadhl Allah di muka Bumi. Mengenai menjalankan segala perintah Allah swt sesuai surah al-jumu’ah ayat 10 Sayyid Quthb menafsirkan makna lafaz fadhl dengan karunia Allah, sedangkan menurut penafsiran Ibnu Katsir adalah rezeki Allah swt. Di dalam penafsiran surah al-Jumu’ah ayat 10 terdapat perbedaan dan persamaan. Akan tetapi memiliki maksud yang sama, yaitu perintah meninggalkan kesibukan Dunia saat adzan shalat jum’at dikumandangkan, dan segera menunaikan shalat jum’at berjamaah di Masjid. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif yang berrati mencari sumber data berbagai bentuk yang berkaitan dengan tema yang ada. Kemudian peneliti mengkaji lebih dalam karya tafsir mereka mengenai metode dan corak tafsirnya. Dilanjutkan dengan komparatif dan tafsir. Maksudnya yaitu memilih ayat tertentu kemudian menentukan beberapa mufassir yang akan dibandingkan penafsiranya melalui karya tafsirnya lalu mencari kesamaan dan perbedaan. Mengenai makna lafaz fadhl yang telah menjadi pembahasan yang berangkat dari mufassir berbeda tentunya memiliki makna yang berbeda pula. Fadhl sendiri menurut Sayyid Quthb ditafsirkan dengan karunia Allah yang mana karunia itu adalah nikmat-nikmat Allah yang diperoleh setelah manusia bertebaran di Bumi dengan mengingat Allah sebanyak-banyaknya yaitu dengan berdzikir. Sedangkan Ibnu Katsir menafsirkan dengan rezeki Allah yang mana ilmu pengetahuan juga termasuk dalam rezeki, akan tetapi untuk mendapatkan rezeki itu manusia tidak boleh lengah dengan kesibukan Dunia sehingga lupa dengan penciptaNya. Kedua mufassir ini memiliki banyak persamaan, karena di dalam surah al-Jumu’ah ayat 10 ini menyeru pada manusia agar tidak meninggalkan kewajiban Dunia sebagai penduduk Bumi dan meninggalkan kewajiban akhirat yaitu menunaikan kewajiban shalat jum’at sebagai bukti ketaatan kepada Allah swt. Karena Dunia dan akhirat harus seimbang.
| Item Type: | Thesis (['eprint_fieldopt_thesis_type_undergraduate' not defined]) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Fadhl; al Jumu’ah ayat 10; Ibnu Katsir; Sayyid Quthb |
| Subjects: | Tafsir |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin dan Filsafat > Ilmu Alquran dan Tafsir |
| Depositing User: | Ulfa Siti Syahyidatul |
| Date Deposited: | 16 Aug 2017 03:56 |
| Last Modified: | 16 Aug 2017 03:56 |
| URI: | http://digilib.uinsby.ac.id/id/eprint/19634 |
