Muniruddin, Muhammad (1996) Kemarahan Tuhan dalam perspektif Mu’tazilah dan Asy’ariyah. ['eprint_fieldopt_thesis_type_undergraduate' not defined] thesis, IAIN Sunan Ampel Surabaya.
Cover.pdf
Download (80kB) | Preview
Abstrak.pdf
Download (145kB) | Preview
Daftar Isi.pdf
Download (94kB) | Preview
Bab 1.pdf
Download (1MB) | Preview
Bab 2.pdf
Download (992kB) | Preview
Bab 3.pdf
Download (233kB) | Preview
Bab 4.pdf
Download (203kB) | Preview
Bab 5.pdf
Download (736kB) | Preview
Bab 6.pdf
Download (208kB) | Preview
Daftar Pustaka.pdf
Download (165kB) | Preview
Abstract
Menurut Mu’tazilah Tuhan wajib mewujudkan yang baik, bahkan yang terbaik bagi manusia, karena itu Tuhan bersikap bijaksana lagi adil, dan tidak dapat berbuat jahat dan berlaku zalim. Dia membuat cintanya tampak nyata dengan mengasihi hamba-hamba-Nya. Sedangkan menurut Asy’ariyah bahwa Tuhan adalah pencipta alam semesta dan dengan demikian adalah pemilik mutlak alam seisinya termasuk manusia, maka Tuhan berhak berbuat apa saja terhadap makhluk-makhluknya, termasuk marah dengan kasih sayang. Rumusan masalah penelitian ini adalah; 1. Benarkah Tuhan tidak pernah marah. 2. Bagaimana menumbuhkan rasa cinta dan menghilangkan rasa cinta dan menghilangkan rasa takut pada Tuhan. Metode pembahasan penelitian ini menggunakan metode induktif, metode deduktif dan metode anaisis. Kesimpulan dari penelitian ini adalah; 1.a.dalam Mu’tazilah sifat Tuhan adalah zat Tuhan, maka kemarahannya adalah zat Tuhan, dan kemarahannya tidak terwujud dalam perbuatan-Nya. Sebab yang mewujudkannya adalah manusia itu sendiri. Sedang kemarahan Tuhan dalam Asy’ariyah adalah sifatnya. Dan kemarahnnya ada pada sifat dan perbuatan-Nya. Sebab kehendak dan daya berbuat pada manusia dari Tuhan. 1.b.Secara tersirat aliran Mu’tazilah dan Asy’ariyah sama-sama mengatakan “setiap perbuatan Tuhan ada kasih sayang-Nya, kasih sayang-Nya ada karena “Tuhan adil” dari mereka. Sebab keadilan berkaitan dengan kebenaran, berarti tidak menyimpang dari kebenaran, tidak merusak dan tidak merugikan (makhluk-Nya atau diri-Nya sendiri). 2. Secara etika takut kepada Tuhan adalah kebodohan atau tidak tahu barang yang mesti diketahui, sedang kebodohan kata Socrates adalah sebab utama imoralitas. Oleh sebab itu manusia harus berbaik sangka atau berpikir positif agar dapatmengambil hikmah aktivitas Tuhan sehingga lahirlah cinta.
| Item Type: | Thesis (['eprint_fieldopt_thesis_type_undergraduate' not defined]) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | kemarahan Tuhan; perspektif Mu’tazilah; perspektif Asy’ariyah |
| Subjects: | Aliran dan Sekte Tuhan |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin dan Filsafat > Aqidah Filsafat Islam |
| Depositing User: | Editor : samid library.uinsby.ac.id |
| Date Deposited: | 15 Jun 2017 07:33 |
| Last Modified: | 15 Jun 2017 07:33 |
| URI: | http://digilib.uinsby.ac.id/id/eprint/17306 |
