Jatim, Jatim (2014) KONFLIK SUNNI-SYI’AH SAMPANG MADURA : TELAAH FENOMENOLOGIS TERHADAP PATRIMONIALISME BUDAYA POLITIK. Masters thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.
Cover.pdf
Download (591kB) | Preview
Abstrak.pdf
Download (82kB) | Preview
Daftar Isi.pdf
Download (57kB) | Preview
Bab 1.pdf
Download (215kB) | Preview
Bab 2.pdf
Restricted to Registered users only
Download (200kB)
Bab 3.pdf
Restricted to Registered users only
Download (225kB)
Bab 4.pdf
Restricted to Registered users only
Download (260kB)
Bab 5.pdf
Restricted to Registered users only
Download (127kB)
Bab 6.pdf
Download (47kB) | Preview
Daftar Pustaka.pdf
Download (129kB) | Preview
Abstract
Penelitian ini dimaksudkan untuk mentelaah konflik kekerasan antara komunitas muslim Sunni dan Syi’ah di Desa Karang Gayam dan Blu’uran, Sampang Madura. Konflik Sunni-Syi’ah terjadi sejak 2005 dan bereskalasi dari peristiwa keperistiwa lainya; dari penghadangan warga Sunni anti-Syi’ah terhadap perayaan Maulid Nabi Saw yang akan diadakan jamaah Syi’ah pada tanggal 9 April 2007, serta penyerangan dan pembakaran rumah milik pimpinan jamaah
Syi’ah pada tanggal 29 Desember 2011, hingga penyerangan dan pembakaran rumah milik warga Syi’ah pada tanggal 26 Agustus 2012, serta pengusiran warga Syi’ah dari pulau Madura ke Rusun Puspa Agro Sidoarjo, pada tanggal 20 Juni
2013. Dengan demikian, penelitian ini selanjutnya, dimaksudkan untuk mengisi celah kosong yang telah dilakukan oleh orang-orang yang tertarik terhadap persoalan ini, dengan menggunakan pendekatan fenomenologi dan patrimonialisme budaya politik.
Paham Syi’ah di Desa Karang Gayam dan Blu'uran, berawal dari Kyai Makmun bin Ahmad Nawawi, ayahanda Tajul Muluk sekitar tahun 1980-an. Kyai Makmun belajar Syi’ah secara diam-diam dan diamalkan hanya untuk dirinya tidak dikenalkan pada masyarakat umum. Pada tahun 1983, Kyai Makmun mengirim putra-putrinya ke Yayasan Pesantren Islam (YAPI) di Bangil Pasuruan. YAPI dikenal sebagai pesantren yang cenderung bermadhhab Syi’ah Jakfariyah. Putra-putri Kyai Makmun yang dikirim ke YAPI, yaitu; Tajul Muluk, Roisul
Hukama dan putrinya, Ummu Hani. Putra-putrinya, inilah yang kemudian melanjutkan paham Syi’ah di Desa Karang Gayam dan Blu’uran, sehingga pada tahun 2004 terbentuklah komunitas muslim Syi’ah di Desa itu, dengan pimpinannya, Kyai Tajul Muluk. Dahwah Tajul Muluk melalui sikapnya yang egaliter, ringan tangan, cekatan dan tidak menerima imbalan(cabisan) di setiap ceramahnya dan mendesain perayaan Maulid Nabi Saw dengan cara disatukan di masjid untuk mengurangi beban warga, membuat warga sekitar tertarik pada kepribadian Tajul
Muluk, sehingga dalam jangka waktu yang tidak lama jamaah Tajul Muluk melesat banyak. Maka hal ini, menimbulkan kecemburuan sosial pada kyai lain di sekitarnya.
Konflik Sunni-Syi’ah disinyalir dari faktor wacana kebencian dan penyesatan yang terus dikumandangkan secara intensif oleh para elite lokal (kyai) sejak tahun 2005 disertai fatwa sesat MUI se-Madura dan Provinsi Jawa Timur
dan konflik internal keluarga antara Tajul Muluk dengan saudaranya, Raisul Hukama yang disebabkan oleh kecemburuan sosial dan asmara. Konflik semakin meluas dan berlarut-larut menjadi konflik berkepanjangan, karena banyak
kepentingan disematkan terhadap konflik tersebut, mulai dari otoritas tradisional, ekonomi dan politik
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Additional Information: | Masdar Hilmy |
| Uncontrolled Keywords: | Sunni; Syiah; Sampang; Patrimonialisme |
| Subjects: | Masyarakat Islam |
| Divisions: | Program Magister > Filsafat Agama |
| Depositing User: | Editor : Ummir Rodliyah------ Information------library.uinsby.ac.id |
| Date Deposited: | 05 Mar 2015 09:12 |
| Last Modified: | 05 Mar 2015 09:12 |
| URI: | http://digilib.uinsby.ac.id/id/eprint/1328 |
