TRADISI MAYANGI DI DESA PLAOSAN KECAMATAN BABAT KABUPATEN LAMONGAN (DALAM PERSPEKTIF TEOLOGI ISLAM AHLUSUNNAH WAL JAMAAH)

Nila Sari, Alifatin (2013) TRADISI MAYANGI DI DESA PLAOSAN KECAMATAN BABAT KABUPATEN LAMONGAN (DALAM PERSPEKTIF TEOLOGI ISLAM AHLUSUNNAH WAL JAMAAH). ['eprint_fieldopt_thesis_type_undergraduate' not defined] thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

[thumbnail of cover.pdf]
Preview
Text
cover.pdf

Download (157kB) | Preview
[thumbnail of abstrak.pdf]
Preview
Text
abstrak.pdf

Download (149kB) | Preview
[thumbnail of daftar isi.pdf]
Preview
Text
daftar isi.pdf

Download (304kB) | Preview
[thumbnail of bab 1.pdf]
Preview
Text
bab 1.pdf

Download (302kB) | Preview
[thumbnail of bab 2.pdf]
Preview
Text
bab 2.pdf

Download (204kB) | Preview
[thumbnail of bab 3.pdf]
Preview
Text
bab 3.pdf

Download (270kB) | Preview
[thumbnail of bab 4.pdf]
Preview
Text
bab 4.pdf

Download (272kB) | Preview
[thumbnail of bab 5.pdf]
Preview
Text
bab 5.pdf

Download (88kB) | Preview
[thumbnail of pustaka.pdf]
Preview
Text
pustaka.pdf

Download (304kB) | Preview

Abstract

Tradisi mayangi atau yang mempunyai makna lain yaitu (ngeruwat atau ruwatan), mayangi atau ngeruwat mempunyai arti teknik (cara, metode) membuat suatu adat kebiasaan menjadi suci. Ruwatan menciptakan dan memelihara mitos, juga adat sosial dan agama. Ritual bisa pribadi atau berkelompok. Wujudnya bisa berupa (doa, tarian, drama, kata-kata seperti amin dan sebagainya). Di Desa Plaosan ini ruwatan di sebut dengan mayangi. Tradisi mayangi sudah ada sejak dahulu dan turun menurun, mayangi tersebut sudah membudaya dan mentradisi hingga sekarang. Pelaksanaan mayangi sangat sederhana dan diadakan di rumah yang bersangkutan. Tradisi mayangi itu suatu upacara tasyakuran untuk membuang kesialan pada diri seorang anak agar menjadi selamat dalam menjalani kehidupan khususnya kalau mempunyai anak tunggal baik laki laki maupun perempuan, mempunyai dua anak laki-laki dan seorang anak perempuan, mempunyai anak tiga, anak yang pertama perempuan, anak yang kedua laki laki anak yang ketiga perempuan, sebaliknya kalau anak pertama laki laki anak ke dua perempuan dan anak ke tiga laki laki, selebih mempunyai anak dari tiga maka tidak diadakan tradisi mayangi. Masyarakat desa plaosan melakukan tradisi mayangi agar si anak nanti kehidupanya akan menjadi lebih baik kedepannya dalam menjalani kehidupan dan terhindar dari marabahaya dan kesialan. Biasanya mayoritas tradisi mayangi ini dilakukan apabila salah satu dari anak itu akan melakukan pernikahan, sebelum di adakan pernikahan maka harus ada tradisi mayangi terlebih dahulu, tapi ada juga sebagian masyarakat yang engadakan tradisi ini kapan saja kalau mereka benar-benar sudah berkeinginan mempunyai hajat untuk mengadakan tradisi mayangi untuk anaknya.

Item Type: Thesis (['eprint_fieldopt_thesis_type_undergraduate' not defined])
Additional Information: Kasno
Uncontrolled Keywords: Tradisi mayangi; teologi; ahlusunnah wal jamaah
Subjects: Filsafat
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Filsafat > Aqidah Filsafat Islam
Depositing User: Editor: Library Administrator----- Information-----http://library.uinsa.ac.id
Date Deposited: 28 Jan 2014
Last Modified: 01 Apr 2015 02:15
URI: http://digilib.uinsby.ac.id/id/eprint/10953

Actions (login required)

View Item
View Item