Studi Komparasi Tentang Zakat Harta Milik Anak Kecil Dan Orang Gila Menurut Perspektif Abu Hanifah Dan Asy-Syafii

This item is published by Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Ulfa, Faulia (2009) Studi Komparasi Tentang Zakat Harta Milik Anak Kecil Dan Orang Gila Menurut Perspektif Abu Hanifah Dan Asy-Syafii. Undergraduate thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

[img] Text
Faulia Ulfa_C03303021.pdf

Download (603kB)

Abstract

Skripsi ini adalah hasil penelitian kepustakaan untuk menjawab pertanyaan : Bagaimana pendapat Abu Hanifah tentang zakat harta milik anak kecil dan orang gila? Bagaimana pendapat Asy-Syafii tentang zakat harta milik anak kecil dan orang gila? Dan bagaimana analisis komparasi hukum tentang zakat harta milik anak kecil dan orang gila dalam perspektif Abu Hanifah dan Asy-Syafii? Teknik penggalian data pada tulisan ini menggunakan teknik deskriptif komparatif, yaitu memaparkan data tentang pemkiran Abu Hanifah dan Asy-syafii yang telah diperoleh kemudian dipaparkan dan dijelaskan sehingga menghasilkan pemahaman yang konkrit, selanjutnya membandingkan pendapat kedua tokoh tersebut sehingga diketahui sebab-sebab terjadinya perbedaan. Menurut hasil penelitian bahwa Abu Hanifah zakat adalah ibadah mahd}ah, atas dasar bahwa zakat adalah salah satu dari (rukun Islam) atau arkan al-din, sehingga kewajibannya hanya dibebankan kepada orang yang telah terpenuhi persyaratanya. Menurut Abu Hanifah diantara syarat berkaitan dengan muzakki adalah balig dan berakal, disamping persyaratan Islam dan merdeka. Dengan demikian orang yang belum memasuki usia baligh (anak kecil) dan tidak berakal sempurna, maka tidak diwajibkan atas mereka untuk mengeluarkan zakat. Dalam persoalan ini Abu Hanifah menyandarkan hujjahnya kepada pendapat Ibnu Mas'ud yang mengatakan bahwa tidak wajib zakat atas harta anak kecil dan orang gila. Sedangkan menurut Asy-Syafi'i bahwa wajib hukumnya zakat pada harta milik anak kecil dan harta milik orang gila. Asy-Syafii tidak membedakan harta milik anak kecil dan orang gila karena ia behujjah bahwa zakat adalah ibadah maliyah yang bersangkutan dengan hak fakir miskin, Jadi dalam masalah ini Asy-Syafii sangat menekankan kewajiban zakat pada harta milik anak kecil dan orang gila karena pada harta mereka terdapat harta orang lain (fakir miskin) yang harus dibayar, dan menurut beliau hal ini termasuk ibadah maliyah yang berbentuk zakat harta benda. Dan menurut beliau wali dari anak kecil dan orang gila itu bertanggung jawab untuk mengambil zakat dari harta mereka. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan, persamaan Abu Hanifah dan Asy-Syafii dapat dilihat dari pendapat mereka bahwa perintah melaksanakan zakat tersebut berlaku umum, baik dari nas al-Quran maupun dari hadis nabi yang menjelaskan pewajiban zakat secara mutlak. Selain itu persamaan pendapat mereka terdapat dalam syarat-syarat wajib tentang muzakki yaitu Islam dan merdeka, dan yang berkaitan dengan al-mal yaitu milik sempurna, mencapai nisab, berlaku setahun. Adapun perbedaan pemikiran Abu Hanifah dan Asy-Syafii adalah kedudukan zakat. Abu Hanifah berpendapat bahwa zakat adalah ibadah mahd}ah serta mensyaratkan baligh dan berakal dalam pelaksanaannya. Sedangkan menurut Asy-Syafii, zakat adalah ibadah maliyah dimana zakat bersangkutan dengan hak fakir miskin, sehingga anak kecil dan orang gila tetap berkewajiban zakat.

Statistic

Downloads from over the past year. Other digital versions may also be available to download e.g. from the publisher's website.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Creators:
CreatorsEmailNIM
Ulfa, FauliaUNSPECIFIEDUNSPECIFIED
Subjects: Muamalat Muamalah
Zakat
Uncontrolled Keywords: Zakat Harta; Anak Kecil; Orang Gila
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Hukum Ekonomi Syariah
Depositing User: Editor: Library Administrator----- Information-----http://library.uinsby.ac.id
Date Deposited: 31 Oct 2009
Last Modified: 17 Jun 2019 04:26
URI: http://digilib.uinsby.ac.id/id/eprint/7747

Actions (login required)

View Item View Item