REKONSTRUKSI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: SEBUAH UPAYA MEMBANGUN KESADARAN MULTIKULTURAL UNTUK MEREDUKSI TERORISME DAN RADIKALISME ISLAM

This item is published by Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Ma’rifah, Indriyani (2012) REKONSTRUKSI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: SEBUAH UPAYA MEMBANGUN KESADARAN MULTIKULTURAL UNTUK MEREDUKSI TERORISME DAN RADIKALISME ISLAM. In: Conference Proceedings: Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) XII, 5 – 8 November 2012, Surabaya – Indonesia.

[img]
Preview
Text
Buku 1_241.pdf

Download (381kB) | Preview

Abstract

Pasca tumbangnya rezim Orde Baru, aksi terorisme dan radikalisme Islam merebak di Indonesia. Betapa tidak, dalam kurun waktu tidak lebih dari satu dekade, bom silih berganti mengguncang republik pluralis ini. Sebut saja misalnya bom Bali I, bom Bali II, bom Kedutaan Besar Australia, bom Hotel JW Marriot I, bom Hotel JW Marriot II, bom Hotel Ritz Carlton, “bom buku” yang ditujukan ke sejumlah tokoh, “bom Jum’at” di masjid Mapolres Cirebon, dan bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, Solo. Radikalisme Islam juga merebak di mana-mana seperti penyerangan terhadap Jemaat Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang,Banten serta penyerangan pondok pesantren yang diduga beraliran Syiah di Pasuruan dan Sampang, Jawa Timur. Menanggulangi terorisme dan radikalisme Islam bukanlah perkara yang mudah. Sebab, terorisme dan radikalisme Islam bukan semata-mata gerakan sosial belaka, namun juga merupakan ideologi. Ideologi tidak mungkin dapat dibasmi hanya dengan pendekatan militer/keamanan saja. Masih banyaknya aksi terorisme di bumi Indonesia merupakan bukti kongkrit betapa penggunaan pendekatan militer/keamanan saja tidak cukup efektif untuk membasmi terorisme dan radikalisme Islam hingga akarakarnya. Oleh karena itu, berbagai pendekatan penanganan terorisme dan radikalisme Islam lainnya harus pula senantiasa diupayakan. Salah satunya adalah melalui pendekatan pendidikan. Pendekatan pendidikan ini antara lain dilakukan dengan cara merekonstruksi Pendidikan Agama Islam (PAI) yang diajarkan di institusi-institusi pendidikan. Rekonstruksi PAI ini penting dan urgen dilakukan. PAI terbukti tidak cukup mampu melahirkan peserta didik yang toleran, moderat, dan inklusif. Buktinya antara lain dapat dilihat dari banyaknya pelaku terorisme dan radikalisme Islam yang melibatkan kaum muda terpelajar, baik pelajar, mahasiswa, maupun lulusan perguruan tinggi. Lebih dari itu, belakangan ini ada kecenderungan upaya-upaya sistematis yang dilakukan oleh kelompok-kelompokkeagamaan tertentu untuk mengajarkan doktrin keagamaan garis keras di kalangan pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA). Rekonstruksi PAI meliputi berbagai aspek seperti kurikulum, pendidik, materi, metode, media, dan evaluasi pembelajaran. Kurikulum PAI harus diarahkan pada pembentukan karakter peserta didik yang pluralismultikulturalis. Kurikulum PAI mestinya mencakup subjek seperti: toleransi, keragaman, bahaya diskriminasi, HAM, demokrasi, dan subjeksubjek lain yang relevan. Bentuk kurikulum PAI hendaknya tidak lagi ditujukan pada peserta didik secara individu menurut agama yang dianutnya, tetapi ditujukan pada peserta didik secara kolektif berdasarkan pada keragaman agama peserta didik. Sementara pada level pendidik, pendidik (guru dan dosen PAI) harus memiliki pengetahuan dan kesadaran multikultural. Dengan begitu, proses pembelajaran PAI yang inklusif akan berjalan dengan baik dan efektif. Materi PAI pun harus menekankan proses edukasi sosial, sehingga pada diri peserta didik tertanam sikap saling menghargai. Para pendidik PAI dituntut pula sekreatif mungkin untuk mendesain serta menggunakan metode dan media pembelajaran yang tepat, sehingga dapat memotivasi anak didiknya untuk mengaktualisasikan nilainilai toleransi ke dalam kehidupan sehari-hari. Pendidik dapat menggunakan dan mengelaborasikan sejumlah metode pembelajaran untuk mengajarkan nilai-nilai toleransi dan perdamaian kepada anak didiknya. Demikian pula dengan media pembelajaran, pendidik PAI dapat menggunakan berbagai media yang berkonten toleransi. Selanjutnya, evaluasi pembelajaran PAI tidak boleh hanya didasarkan pada kemampuan kognitif dan psikomotorik saja, namun juga harus mencakup kemampuan afektif peserta didik. Standar penilaian yang digunakan bukan hanya didasarkan pada angka-angka, namun yang terpenting adalah sikap dan kesadaran peserta didik akan ajaran agamanya, termasuk dalam hal menghargai pemeluk agama lain. Rekonstruksi PAI diharapkan mampu menjadi instrumen untuk menumbuhkembangkan nilai-nilai toleransi dan perdamaian kepada peserta didik sejak dini, sehingga akan melahirkan generasi bangsa yang pluralismultikulturalis. Dengan demikian, berbagai aksi terorisme dan radikalisme Islam di Indonesia ke depannya dapat direduksi dan diminimalisasi.

Statistic

Downloads from over the past year. Other digital versions may also be available to download e.g. from the publisher's website.

Item Type: Conference or Workshop Item (Paper)
Creators:
CreatorsEmailNIM
Ma’rifah, IndriyaniUNSPECIFIEDUNSPECIFIED
Subjects: Pendidikan Islam
Uncontrolled Keywords: Pendidikan Agama Islam; terorisme; radikalisme Islam; multikultura
Divisions: Karya Ilmiah > Prosiding
Depositing User: Nurul Hidayah
Date Deposited: 04 Aug 2016 02:17
Last Modified: 04 Aug 2016 02:17
URI: http://digilib.uinsby.ac.id/id/eprint/7615

Actions (login required)

View Item View Item