PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG JAMUAN TAHLILAN DI DESA ROMBIYA BARAT GANDING SUMENEP

This item is published by Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Khazin, A. Mufti (2013) PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG JAMUAN TAHLILAN DI DESA ROMBIYA BARAT GANDING SUMENEP. In: Laporan Penelitian, Bulan Juli - Desember 2013, Desa Rombiya Barat Kecamatan Ganding Kabupaten Sumenep.

[img]
Preview
Text
Persepsi Masyarakat Tentang Jamuan Tahlilan.pdf

Download (2MB) | Preview

Abstract

Fokus penelitian ini Persepsi Masyarakat tentang Jamuan Tahlilan di Desa Rombiya Barat Ganding Sumenep Pemilihan tema ini didasarkan pada pertimbangan banyaknya kesalahfahaman dalam memaknai arti tradisi yang berkembang dalam masyarakat.
Untuk mencapai hasil penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatifdeskriptif dengan analisis isi. Hasil penelitian akan disajikan di bawah ini:
Pertama, masyarakat menganggap bahwa jamuan yang disuguhkan kepada jamaah tahlilan dimaksdukan sebagai penghormatan atas kehadiran para jamaah yang telah meluangkan waktu dan tenaganya untuk datang ke rumah duka. Disampaing itu, mereka menganggap bahwa kehadiran mereka adalah moment yang tepat untuk bersedekah atas nama almarhum dan jamuan yang disuguhkan dimaksudkan sebagai perbuatan baik ahli waris yang pahala diberikan kepada almarhum. Disamping juga menjaga komentar orang apabila dimelakukan hal itu karena tradisi ini sudah mengakar. Bahkan mereka akan mengorbankan segala kekuatannya untuk melakukan jamuah.
Kedua, besarnya pengorbanan harta benda yang mereka dedikasi kepada almarhum dengan menberi jamuan pada jamaah yang hadir tidak dibarengi dengan kesadaran mengamalkan ajaran agama. Misalnya mereka rela menyembelih sapi untuk kendurian tapi mereka tidak melakukan ibadah kurban sebagaimana disyariatkan dan sangat dianjurkan dalam Islam. Ini artinya ada perhatian yang besar pada tradisi/hal-hal yang tidak menjadi ajaran dan meninggalkan sesuatu yang disyariatkan. Mementingkan tradisi dan mendahulukannya dan mengesamping ibadah yang jelas dalilnya.
Ketiga, ada bahkan sebagian yang hingga menggadaikan atau bahkan menjual tanahnya untuk membiaya acara kendurian yang inti ada sikap yang berlebih-lebihan atau takalluf.
Keempat, perlunya ada sosial engineering atau rekayasa sosial untuk melakukan perubahan dan tradition engineering untuk mempersiapkan masyarakat ke masa akan datang yang penuh tantangan,
Dari uraian-uraian di atas, penulis menyimpulkan:
Pertama, telah terjadi persepsi yang keliru dalam masyarakat dalam melaksanakan dan melestarikan tradisi sehingga terjadi pengabaian sesuatu yang utama dan mengutamakan yang tidak penting sehingga kehilang kemampuan daya finansial untuk hal-hal yang memiliki urgensitas dalam menghadapi tantangan \zaman.
Kedua, bagi kalangan pemerhati masalah pengembangan dan pemberdayaan masyarakat, ulama, pemerintah dan LSM hendaknya merumuskan pengembangan masyarakat dan melestarikan tradisi seraya menggunakan paradigma fikih prioritas agar tidak kehilangan elan vitalnya dalam mengantarkan masyarakat transformatif, produktif, kreatif dan progresif.

Statistic

Downloads from over the past year. Other digital versions may also be available to download e.g. from the publisher's website.

Item Type: Conference or Workshop Item (Paper)
Creators:
CreatorsEmailNIM
Khazin, A. MuftiUNSPECIFIEDUNSPECIFIED
Subjects: Doa dan Zikir
Keywords: Jamuan; Tahlilan; Fikih Prioritas; Pemberdayaan
Divisions: Karya Ilmiah > Laporan Penelitian
Depositing User: Editor : Abdun Nashir------ Information------library.uinsby.ac.id
Date Deposited: 23 May 2016 08:54
Last Modified: 24 May 2016 06:39
URI: http://digilib.uinsby.ac.id/id/eprint/6584

Actions (login required)

View Item View Item