Kekekalan surga dan neraka dalam Al-Qur’an: studi penafsiran kitab Majma’ Al-Bayan Fi Tafsir Al-Qur’an karya Al-Thabrisi dan Kitab Fath Al-Qadir karya Al-Syawkani

This item is published by Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Maisyaroh, Afina Sufi (2021) Kekekalan surga dan neraka dalam Al-Qur’an: studi penafsiran kitab Majma’ Al-Bayan Fi Tafsir Al-Qur’an karya Al-Thabrisi dan Kitab Fath Al-Qadir karya Al-Syawkani. Undergraduate thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

[img] Text
Afina Sufi Maisyaroh_E03217004.pdf

Download (3MB)

Abstract

Secara umum, masih saja diperdebatkan oleh para ulama perihal adanya kekekalan surga dan neraka. Multitafsir tersebut disebabkan karena dalam ilmu kalam konsep kekekalan hanya dimiliki oleh Allah Swt. Selain itu, disebabkan adanya keterangan dalam Alquran surat Hud ayat 107 tentang “abadinya surga dan neraka seperti adanya langit dan bumi kecuali jika Tuhanmu menghendaki.” Penyebutan langit dan bumi serta kalimat istisna’ disini menjadi persoalan yang sangat panjang. Sebagian banyak mufassir membenarkan tentang kekekalan tersebut tetapi beberapa dari mereka berpendapat bahwa keduanya tidak akan kekal. Hal ini dikarenakan merujuk pada Alquran Surat Ali-Imran ayat 185, bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. Bahkan ditemukan salah satu asar yang disampaikan oleh Ibnu Jarir dari al-Sya’bi bahwa “Jahanam adalah tempat yang lebih cepat ramai dan cepat hancur dari kedua tempat tersebut (surga dan neraka)”. Berbagai tafsiran mengenai kekekalan surga dan neraka menjadi hal menarik. Penelitian ini bertujuan untuk menggali kembali penafsiran pada ayat-ayat tentang kekekalan surga dan neraka. Penelitian ini menggunakan metode library research atau penelitian kepustakaan. Adapun sumber data yang digunakan dari dua kitab yaitu kitab Majma’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an karya al-Thabrisi dan kitab Fath} al-Qadir karya al-Syawkani. Kedua mufassir tersebut beraliran Syi’ah yang ternyata juga dijadikan rujukan oleh ulama’ Sunni. Hal ini dikarenakan kebijakan dan keluasan ilmunya, sehingga penafsiran yang dihasilkan tidak terjebak dalam kejumudan atau taklid. Selanjutnya data akan dianalisis menggunakan deskriptif analitis.Berdasarkan hasil analisis di atas, Keduanya merupakan mufassir yang memiliki sedikit perbedaan dalam menafsirkan Alquran. Perbedaan tersebut terletak pada ta’wil yang digunakan oleh al-Thabrisi. Keduanya dalam menafsirkan ayat-ayat kekekalan surga dan neraka membahas mengenai makna mufrodat, i’rab, balaghah, hadis nabi serta qaul sahabat, tabi’in dan tabi’tabi’in. Hasil penafsiran dari dua tokoh mufassir ini berpendapat bahwa adanya kekekalan yang dimiliki oleh surga dan neraka. Pengecualian pada Alquran Surah Hud ayat 107 ditujukan pada golongan terakhir yang masuk surga atau ahli tauhid. Kehidupan akhirat merupakan kehidupan untuk selamanya. Sehingga di dalam Alquran dijelaskan bagi penghuni surga akan dimasukkan ke dalam tempat yang abadi (surga). Begitu dengan penghuni neraka akan dimasukkan didalamnya tanpa pertolongan dari siapapun. Kecuali golongan ahli tauhid yang diangkat ke surga setelah menjalani hukumannya. Lamanya kehidupan di akhirat disebutkan dalam Alquran Surah an-Naba ayat 23 bahwa kehidupan di akhirat yaitu berabad-abad lamanya. Mereka akan merasakan bagaimana setiap harinya terdapat 1000 tahun dan tidak akan ada yang mampu menghitungnya.

Statistic

Downloads from over the past year. Other digital versions may also be available to download e.g. from the publisher's website.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Creators:
CreatorsEmailNIM
Maisyaroh, Afina Sufisufiafina@gmail.comE03217004
Contributors:
ContributionNameEmailNIDN
Thesis advisorMaisyaroh, Afina Sufisufiafina@gmail.comE03217004
Subjects: Alam Ghaib
Al Qur'an
Keywords: Kekekalan; Surga; dan Neraka.
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Filsafat > Ilmu Alquran dan Tafsir
Depositing User: Afina Sufi Maisyaroh
Date Deposited: 17 Jun 2021 11:16
Last Modified: 17 Jun 2021 11:16
URI: http://digilib.uinsby.ac.id/id/eprint/48041

Actions (login required)

View Item View Item