Analisis maṣlaḥah terhadap kebiasaan memperbarui nikah setelah melahirkan dalam perkawinan perempuan hamil dengan laki-laki yang menghamili di Desa Jambu Kecamatan Burneh Kabupaten Bangkalan

This item is published by Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Murtavia, Dewi (2020) Analisis maṣlaḥah terhadap kebiasaan memperbarui nikah setelah melahirkan dalam perkawinan perempuan hamil dengan laki-laki yang menghamili di Desa Jambu Kecamatan Burneh Kabupaten Bangkalan. Undergraduate thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

[img] Text
Dewi Murtavia_C91216075.pdf

Download (1MB)

Abstract

Penelitian ini menjawab rumusan masalah bagaimana tradisi memperbarui nikah setelah melahirkan dalam kasus perkawinan wanita hamil dengan laki-laki yang menghamilinya di Desa Jambu Kecamatan Burneh Kabupaten Bangkalan dan bagaimana analisis Maṣlaḥah tradisi memperbarui nikah setelah melahirkan dalam kasus perkawinan wanita hamil dengan laki-laki yang menghamilinya di Desa Jambu Kecamatan Burneh Kabupaten Bangkalan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang mengambil lokasi di Desa Jambu Kecamatan Burneh Kabupaten Bangkalan. Dalam pengumpulan data, penelitian ini menggunakan teknik wawancara, yaitu dengan pelaku tradisi, tokoh masyarakat, dan penyuluh KUA Kecamatan Burneh. Langkah selanjutnya menganalisis dengan metode deskriptif analisis, yaitu memaparkan dan menjelaskan data-data yang berkaitan dengan tradisi pembaruan nikah, kemudian ditarik pada sebuah data dan fakta mengenai tradisi pembaruan nikah yang terjadi di Desa Jambu Kecamatan Burneh Kabupaten Bangkalan. Di Desa Jambu, ketika terjadi pernikahan antara perempuan dalam keadaan hamil dengan laki-laki yang menghamilinya, setelah bayi yang ada dalam kandungannya lahir, maka sudah menjadi keharusan di Desa Jambu melakukan tradisi “nganyarih kabin” atau “tajdidun nikah”. Hal itu dianggap sebagai sanksi bagi sebuah pasangan untuk melaksanakan tradisi pembaruan nikah, agar sah dimata agama, hukum dan juga masyarakat. Bermula dari pendapat Mazhab Malikiyah dan Hanabilah, wanita yang hamil di luar nikah tidak boleh dinikahi oleh laki-laki yang menghamilinya. Maka adanya tradisi pembaharuan nikah ini dilaksanakan untuk sebuah ihtiyat (kehati-hatian), agar terhindar dari tidak sahnya sebuah pernikahan, agar pernikahannya tetap sah menurut agama islam. Berdasarkan hasil penelitian yang di lakukan oleh penulis, pelaksanaan tradisi pembaruan nikah di Desa Jambu tidak terlepas dari Maṣlaḥah dan mudlarat yang ditimbulkannya. Pertimbangan yang dilakukan terhadap tradisi “pembaharuan nikah” adalah dengan memperlihatkan Maṣlaḥah yang ditimbulkan ketika melakukan pembaharuan nikah adalah Ihtiyat (kehati-hatian) terhadap akad terdahulu, memperbaiki nama baik keluarga dan masyarakat, serta memupuk keharmonisan dalam keluarga. Penulis berharap agar bagi pasangan suami istri yang mengalami keragu-raguan pada status perkawinannya, akibat dari pernikahan wanita yang hamil di luar nikah di kawini oleh laki-laki yang menghamilinya, bisa melakukan tradisi pembaruan nikah guna memantapkan keyakinan mereka dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Statistic

Downloads from over the past year. Other digital versions may also be available to download e.g. from the publisher's website.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Creators:
CreatorsEmailNIM
Murtavia, Dewimurtaviadewi@gmail.comC91216075
Contributors:
ContributionNameEmailNIDN
Thesis advisorBahar, Moh. Syaefulbosbahar@yahoo.com2015037801
Subjects: Hukum Islam
Perkawinan
Hukum Islam > Perzinaan
Keywords: Pernikahan; Nikah; Tajdidun nikah.
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Hukum Keluarga Islam
Depositing User: Dewi Murtavia
Date Deposited: 04 Jun 2021 03:00
Last Modified: 04 Jun 2021 03:00
URI: http://digilib.uinsby.ac.id/id/eprint/47911

Actions (login required)

View Item View Item