Agama dan Budaya Lokal: studi tentang Ritual Suro di Petilasan Sri Aji Jayabaya Kediri

This item is published by Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Izayanti, Ayu Nurul (2021) Agama dan Budaya Lokal: studi tentang Ritual Suro di Petilasan Sri Aji Jayabaya Kediri. Undergraduate thesis, UIN SUNAN AMPEL SURABAYA.

[img] Text
Ayu Nurul Izayanti_E02217008.pdf

Download (1MB)

Abstract

Skripsi ini merupakan hasil dari penelitian yang berjudul “Agama dan Budaya Lokal (Studi Tentang Ritual Satu Suro di Petilasan Sri Aji Jayabaya Kediri)”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beberapa permasalahan diantaranya yaitu : Perrtama untuk mengetahui prosesi ritual satu suro di petilasan Sri Aji Jayabaya Kediri, Kedua untuk mengetahui hubungan agama dan budaya lokal satu suro di petilasan Sri Aji Jayabaya Kediri, Ketiga untuk mengetahui makna dilaksanakannya ritual saru suro di petilasan Sri Aji Jayabaya Kediri. Pada penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif atau penelitian dengan menggunakan metode pengumpulan data dengan cara observasi dan wawancara. Penggunaan metode tersebut digunakan untuk mendapatkan informasi yang tepat dan jelas pada pelaksanaan ritual satu suro di petilasan Sri Aji Jayabaya Kediri. Penelitian ini menggunakan pendekatan Antropologi yang membahas mengenai budaya lokal yang merupakan ciri khas masyarakat Jawa pada bulan suro dan umumnya disebut dengan suroan. Pada ritual ini merupakan tradisi turun temurun yang merupakan inisiatif dari Yayasan Hondodento. Ritual satu suro di petilasan Jayabaya Kediri mulai dilaksanakan pada tahun 1976 setelah pemugaran bangunan petilasan. Jayabaya adalah seorang raja yang pernah memerintah Kerajaan Kediri dan pada masa pemerintahannya merupakan masa kejayaan sampai saat ini nama Jayabaya masih terdengar melalui ramalan-ramalannya yang masih dipercaya sampai saat ini. Oleh sebab itu masyarakat Jawa terutama masyarakat Kediri melaksanakan ritual satu suro di Petilasan Jayabaya adalah untuk mengenang dan menghormati leluhur mereka yakni Prabu Jayabaya. Kebudayaan masyarakat Jawa yang masih sangat kental dengan mistis membuat mereka mempercayai bahwa roh leluhur mempunyai pengaruh untuk kehidupan mereka oleh sebab itulah mengapa beberapa ritual di Jawa masih dilaksanakan. Menurut Clifford Geertz masyarakat Jawa seperti ini masuk dalam kategori varian abangan adalah sinkretis yang dalam pelaksaannya menggabungkan antara dua atau lebih agama. Penggunaan sesaji yang identik dengan Hindu masih terlihat meskipun pada pelaksanaan ritualnya mayoritas dari mereka adalah beragama Islam. Varian abangan juga masih mempercayai tentang animisme dan hal-hal mistis lainnya.

Statistic

Downloads from over the past year. Other digital versions may also be available to download e.g. from the publisher's website.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Creators:
CreatorsEmailNIM
Izayanti, Ayu Nurulayuizayanti9@gmail.comE02217008
Contributors:
ContributionNameEmailNIDN
Thesis advisorBasyir, Kunawikunawi@uinsby.ac.id2018096401
Subjects: Islam > Kepercayaan, Aliran
Kebudayaan Jawa
Agama > Agama dan Ilmu Pengetahuan
Keywords: Ritual Suro; Agama; Budaya Lokal; Masyarakat Jawa.
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Filsafat > Studi Agama - Agama
Depositing User: ayu izayanti
Date Deposited: 10 Feb 2021 08:58
Last Modified: 10 Feb 2021 08:58
URI: http://digilib.uinsby.ac.id/id/eprint/46368

Actions (login required)

View Item View Item