مفهوم حديث التوسل: دراسة مقارنة رأي ابن تيمية و السيد محمد علوي المالكي الحسني

This item is published by Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Al Mundziri, Mahsun (2010) مفهوم حديث التوسل: دراسة مقارنة رأي ابن تيمية و السيد محمد علوي المالكي الحسني. Undergraduate thesis, IAIN Sunan Ampel Surabaya.

[img] Text
Mahsun Al Mundziri_E63207022.pdf

Download (4MB)

Abstract

Tema Tawassul menjadi sebuah kajian aktual, hangat, bahkan terkadang memanas di kalangan para terpelajar Islam (kaum santri). Sementara kalangan santri berpandangan bahwa tawassul kepada Nabi Muhammad, para Auliya' dan orang­ orang shaleh merupakan tradisi yang shahih dan ma'tsur dari para salaf al shaleh, sementara kalangan santri yang lain berpandangan bahwa tawassul kepada orang yang sudah meninggal merupakan amalan bid'ah bahkan bisa mengantarkan orang­orang awam ke dalam kesyirikan. Dua Ulama' besar yang memiliki pengaruh luas dalam masyarakat Islam, yaitu lbnu Taymiyyah dan Sayyid Muhammad Alwi Almaliki telah mengkaji masalah tawassul secara mendalam dengan dalil dan argumentasi masing-masing yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Ada dua hadits yang digunakan oleh kedua Ulama' sebagai landasan dalam masalah tawassul yaitu hadits yang dirawayatkan oleh Tirmidzi tentang tawassulnya seorang buta kepada Nabi dan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari tentang tawassulnya Umar kepada Abbas. Namun pemaknaan yang dikembangkan oleh dua Ulama' terhadap kedua hadits diatas telah melahirkan kesimpulan hukum yang berbeda. Dalam pandangan lbnu Taymiyyah tawassul kepada Nabi, para Auliya' dan orang-orang shaleh yang telah meninggal merupakan amalan yang tidak Masyru', sedangkan Sayyid Muhammad Alwi Almaliki berpandangan bahwa tawassul merupakan amalan yang benar dan Masyru'. Dari perbedaan pandangan diatas penulis ingin mengungkap dua pertanyaan penting Pertama, bagaimana kualitas kedua hadits diatas. Kedua, bagaimana pemaknaan yang dikembangkan oleh kedua Ulama' sehingga menimbulkan perbedaan pandangan tentang tawassul. Dalam menjawab pertanyaan tersebut secara garis besar penulis menggunakan dua teori Pertama, teori keshahihan sanad dan matan hadits. Kedua, teori komparatif yang dipakai untuk memperbandingkan alasan-alasan yang dijadikan pijakan oleh kedua Ulama'. Hasil yang diperoleh dari pembahasan ini ialah bahwa kedua hadits diatas berderajat shahih Ii dzatihi, adapun perbedaan pandangan antara kedua Ulama' ialah bahwa lbnu Taymiyyah mengharamkan tawassul dengan landasan yang artinya tawassul diharamkan untuk menutup pintu-pintu menuju kesyirikan. Adapun Sayyid Muhammad Alwi Almaliki berpandangan bahwa tawassul diperbolehkan dengan syarat-syarat yang ketat agar kaum Muslimin terhindar dari kesyirikan, syarat-syarat tawassul ada tiga: a) seorang yang bertawassul menujukan do'anya kepada Allah bukan kepada orang yang ia jadikan sebagai wasilah. b) seorang yang bertawassul meyakini bahwa yang memberikan manfaat dan menerima do'a adalah Allah. c) tawassul bukanlah suatu keharusan di dalam berdo'a dan tidak menjadi penentu terkabulnya do'a karena terkabulnya do'a lebih ditentukan oleh tingkat keyakinan yang dimiliki oleh seseorang serta amal sholehnya.

Statistic

Downloads from over the past year. Other digital versions may also be available to download e.g. from the publisher's website.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Creators:
CreatorsEmailNIM
Al Mundziri, Mahsun--E63207022
Contributors:
ContributionNameEmailNIDN/NIP
Thesis advisorMuhid, Muhidmuhid@uinsby.ac.id2002106301
Subjects: Hadis
Uncontrolled Keywords: Hadits; Tawassul; Ibnu Taymiyyah; Sayyid Muhammad Alwi Almaliki Alhasani
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Filsafat > Tafsir Hadis
Depositing User: Editor : Abdun Nashir------ Information------library.uinsby.ac.id
Date Deposited: 13 Mar 2020 07:58
Last Modified: 13 Mar 2020 07:58
URI: http://digilib.uinsby.ac.id/id/eprint/39346

Actions (login required)

View Item View Item