PEREMPUAN KONVEKSI : PENDAMPINGAN PEREMPUAN BURUH KONVEKSI DALAM MENGEMBANGKAN USAHA KREATIF DESA BANDUNG KECAMATAN GEDEG MOJOKERTO

This item is published by Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Dimas, Muhammad (2015) PEREMPUAN KONVEKSI : PENDAMPINGAN PEREMPUAN BURUH KONVEKSI DALAM MENGEMBANGKAN USAHA KREATIF DESA BANDUNG KECAMATAN GEDEG MOJOKERTO. Undergraduate thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

[img]
Preview
Text
Cover.pdf

Download (3MB) | Preview
[img]
Preview
Text
Abstrak.pdf

Download (171kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Daftar Isi.pdf

Download (151kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Bab 1.pdf

Download (253kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Bab 2.pdf

Download (898kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Bab 3.pdf

Download (234kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Bab 4.pdf

Download (760kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Bab 5.pdf

Download (699kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Bab 6.pdf

Download (245kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Bab 7.pdf

Download (162kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Daftar Pustaka.pdf

Download (186kB) | Preview

Abstract

Kehidupan buruh konveksi di Desa Bandung memberikan gambaran tentang kehidupan buruh di Indonesia yang rata-rata berjenis kelamin perempuan dengan gaji yang tidak sepadan dengan usaha yang dilakukannya. Terbatasnya ruang usaha ditunjang dengan minimnya tingkat pendidikan serta sumber daya manusia dan juga terbatasnya akses serta rentannya terhadap dominasi pihak-pihak tertentu dialami dan dimiliki sebagian besar masyarakat pedesaan dalam hal ini adalah masyarakat Desa Bandung menjadi problem yang semakin pelik yang mencegah masyarakat desa untuk berkembang. Hal inilah yang menyebabkan masyarakat desa melakukan urbanisasi dengan pengharapan hidup yang lebih baik meskipun tidak sedikit cerita pilu di tanah perantauan.
Latar belakang mengangkat problem ini pada dasarnya memuat tiga pokok permasalahan. Pertama, rendahnya pendapatan perempuan buruh konveksi Desa Bandung karena ketergantungan terhadap pemilik modal. Kedua, rendahnya pengetahuan masyarakat dalam mengembangkan potensi yang ada. Ketiga, adanya keberpihakan pemerintah desa terhadap pemilik modal/pengusaha konveksi yang mengakibatkan terbatasnya ruang gerak perempuan buruh konveksi dalam menciptakan usaha sendiri serta tidak adanya lembaga yang menghimpun masyarakat buruh konveksi dalam menciptakan langkah-langkah survival agar mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Proses pengorganisasian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa masyarakat memiliki harapan tentang bagaimana bertahan dengan kekuatan yang dimiliki. Kesadaran menjadi hal dasar yang menguatkan eksistensi dari proses pemberdayaan masyarakat. Hal ini terbukti dengan banyaknya masyarakat yang mulai memahami pada hal apa mereka harus berbuat dan menghindarinya.Adapun pendekatan yang digunakan menggunakan pendekatan berbasis asset. Pendekatan berbasis aset sama artinya dengan pendekatan ‘merawat’. Bila mengamati alam sekitar dan melihat bagaimana tanaman tumbuh, maka memahami bahwa pertumbuhan terjadi ketika ada cahaya, air dan gizi. Ini serupa dengan organisasi sosial. Semuanya memiliki kemampuan untuk tumbuh dan berubah dalam situasi yang tepat. Bila organisasi tidak berhasil tumbuh, artinya kondisi untuk bertumbuh itu tidak ada atau kurang tepat. Seorang aktor perubahan mengasumsikan bahwa ada potensi untuk tumbuh, ada benih yang nanti akan menjadi sesuatu yang besar dan yang kita butuhkan adalah kondisi yang tepat untuk pertumbuhannya.

Statistic

Downloads from over the past year. Other digital versions may also be available to download e.g. from the publisher's website.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Additional Information: Munir Mansyur
Creators:
CreatorsEmailNIM
Dimas, MuhammadUNSPECIFIEDUNSPECIFIED
Subjects: Keterampilan
Bisnis
Keywords: Pendampingan Perempuan; Buruh Konveksi
Divisions: Fakultas Dakwah dan Komunikasi > Pengembangan Masyarakat Islam
Depositing User: Users 283 not found.
Date Deposited: 18 Sep 2015 01:28
Last Modified: 30 Jun 2016 03:22
URI: http://digilib.uinsby.ac.id/id/eprint/2285

Actions (login required)

View Item View Item