PESAN TALAK LEWAT SOSIAL MEDIA : STUDI KASUS TALAK LEWAT FACEBOOK PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

Sakagama, Imaduddin (2015) PESAN TALAK LEWAT SOSIAL MEDIA : STUDI KASUS TALAK LEWAT FACEBOOK PERSPEKTIF HUKUM ISLAM. Undergraduate thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

[img]
Preview
Text
Cover.pdf

Download (379kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Abstrak.pdf

Download (77kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Daftar Isi.pdf

Download (80kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Bab 1.pdf

Download (242kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Bab 2.pdf

Download (445kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Bab 3.pdf

Download (165kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Bab 4.pdf

Download (211kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Bab 5.pdf

Download (103kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Daftar Pustaka.pdf

Download (123kB) | Preview

Abstract

Data penelitian dihimpun melalui wawancara kepada pelaku pernikahan dan Wali serta menelaah dokumen baik dokumen perkawinan maupun dokumen facebook. Kemudian semua data yang telah dihimpun dianalisis dengan teknik deskriptif-induktif. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa Praktek talak lewat pesan facebook yang terjadi pada pasangan Susi dan Eko di Kec. Wiyung berawal teman kerja, kemudian berpacaran. Hingga, keduanya terjerumus ke perbuatan asusila. Susi pun hamil. Pihak keluarga Susi kemudian meminta pertanggung jawaban kepada Eko. Setelah adanya pemaksaan maka tidak lama setelah itu pernikahan pun dilangsungkan di KUA Wiyung, Surabaya pada tanggal 26 Juni
2009. Pernikahan tersebut tidak berlangsung lama, ketika ada masalah rumah tangga, Eko langsung menceraikan Susi dengan ucapan. Hal ini terulang hingga dua kali. Setelah rujuk yang kedua, Eko meninggalkan rumah Susi, hingga Susi
membaca pesan facebook dari Eko dengan redaksi ‚kamu setelah melahirkan saya ceraikan‛. Kasus menceraikan istri lewat pesan facebook merupakan salah satu bentuk perceraian dengan tulisan atau di dalam fiqih disebut at} -T}ala>q bi al-Kita>bah. Hukum dari perceraian model tersebut jika menerapkan sad al-Dhari’a>h yaitu tidak sah dan tidak jatuh karena dalam rangka menghindari perbuatan yang dibenci Allah dan kesewenang-wenangan suami, maka perceraian haruslah dipersulit. Hal ini sebagaimana asas pernikahan yang merupakan suatu ikatan yang kokoh, sehingga tidak mudah untuk merusak ikatan tersebut. Hal-hal yang
menurut penulis sebagai bentuk mempersulit perceraian antara lain: persaksian dua orang yang adil dan perceraian harus di depan sidang pengadilan. Karena perceraian pada kasus yang terjadi di kec. Wiyung akan menimbulkan madharat
yang lebih banyak daripada maslahahnya. Sejalan dengan kesimpulan di atas, maka hendaknya pihak yang bertikai
menyikapi kemajuan teknologi dengan bijaksana. Dan apabila ingin bercerai hendaklah dengan cara yang baik seperti mengajukan perceraian ke pengadilan,Para tokoh agama Islam, hendaknya mereka jangan membedakan hukum fiqih dan hukum negara dalam hal perceraian. Karena hukum negara seperti KHI
adalah fiqih Indonesia. Para muballigh, hendaknya mereka menyebarluaskan tentang fiqih Indonesia yang merupakan hukum positif. Kepada pemerintah,hendaknya merevisi peraturan perundangan tentang perkawinan termasuk perceraian yang dilakukan di luar pengadilan, Sehingga pemerintah bukan hanya tidak mengakui perceraian tersebut namun, juga pemberian sanksi pidana maupun denda.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Uncontrolled Keywords: Talak
Subjects: Hukum Islam
Hukum Islam > Gugatan
Talak
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Hukum Keluarga Islam
Depositing User: Users 274 not found.
Date Deposited: 03 Aug 2015 04:27
Last Modified: 10 Aug 2015 03:48
URI: http://digilib.uinsby.ac.id/id/eprint/2103

Actions (login required)

View Item View Item