Konsep kafir menurut Khawarij

This item is published by Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Zamroni, Zamroni (1999) Konsep kafir menurut Khawarij. Undergraduate thesis, IAIN Sunan Ampel Surabaya.

[img]
Preview
Text
Cover.pdf

Download (502kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Abstrak.pdf

Download (120kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Daftar Isi.pdf

Download (252kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Bab 1.pdf

Download (981kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Bab 2.pdf

Download (668kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Bab 3.pdf

Download (792kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Bab 4.pdf

Download (327kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Bab 5.pdf

Download (417kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Daftar Pustaka.pdf

Download (295kB) | Preview

Abstract

Khawarij memandang bahwa Ali, Muáwiyah, Amr Ibn al As dan lain-lain yang menerima arbitrase adalah kafir dengan berdasar pada ayat 44 Surat al Maidah. Dari ayat ini pula kaum Khawarij mengambil semboyan “La hukma illa lillah”. Dan mereka yang telah menerima arbitrase dipandang kafir dalam arti bahwa mereka telah murtad. Maka kaum Khawarij mengambil keputusan untuk membunuh mereka. Dalam perkembangannya, kaum Khawarij pecah menjadi beberapa sekte dan konsep kafir turut mengalami perubahan. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah; 1. Bagaimanakah konsep kafir menurut Khawarij. 2. Apakah factor-faktor yang melatarbelakangi Khawarij untuk mempertegas konsep kafir. Metode pembahasan skripsi ini menggunakan metode deduksi dan metode induksi. Kesimpulan penelitian ini adalah; 1. Dosa besar dalam pandangan Khawarij itu sama dengan kekufuran. Mereka mengkafirkan setiap pelaku dosa besar apabila ia tidak bertobat, dan atas dasar inilah mereka secara terang-terangan mengkafirkan semua sahabat Nabi SAW, yakni seluruh pengikut Ali dan Muáwiyah dan juga semua yang ikut dalam perang Jamal (Onta), termasuk Zubair, Thalhah dan Aisyah Ummul Mu’minin. Dalam mempertegas konsep kafirnya, Khawarij menegaskan ada dua sebab yaitu; a.Khalifah Ali bin Abi Thalib telah mengirim surat kepada Muáwiyah dengan tidak menggunakan pangkat Amirul Mukminin. Yang berate Bahwa Khalifah Ali bin Abi Thalib tidak lagi menjadi Amirul Mukminin, tetapi telah menjadi Amirul Kafirin. b.Khalifah Ali bin Abi Thalib telah menerima tahkim. Sebagaimana menurut mereka perselisihan itu tidak lagi dibutuhkan tahkim, akan tetapi harus diperangi sampai mereka (Muáwiyah dan kelompoknya) kalah dan mau mengikuti Khalifah Ali bin Abi Thalib

Statistic

Downloads from over the past year. Other digital versions may also be available to download e.g. from the publisher's website.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Creators:
CreatorsEmailNIM
Zamroni, ZamroniUNSPECIFIEDUNSPECIFIED
Subjects: Akhlak > Akhlak Tercela
Aliran dan Sekte
Keywords: konsep kafir; Khawarij
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Filsafat > Aqidah Filsafat Islam
Depositing User: Editor : samid library.uinsby.ac.id
Date Deposited: 19 May 2017 08:21
Last Modified: 19 May 2017 08:21
URI: http://digilib.uinsby.ac.id/id/eprint/16973

Actions (login required)

View Item View Item