SIRRU ISTIKHDAM AL- WASHL WA AL-FASHL FI SURAH YUSUF : DIRASAH BALAGHIYYAH

This item is published by Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Junud, M. Irsan (2014) SIRRU ISTIKHDAM AL- WASHL WA AL-FASHL FI SURAH YUSUF : DIRASAH BALAGHIYYAH. Undergraduate thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

[img]
Preview
Text
Cover.pdf

Download (473kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Abstrak.pdf

Download (70kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Daftar Isi.pdf

Download (72kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Bab 1.pdf

Download (93kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Bab 2.pdf

Download (157kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Bab 3.pdf

Download (79kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Bab 4.pdf

Download (382kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Bab 5.pdf

Download (52kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Daftar Pustaka.pdf

Download (56kB) | Preview

Abstract

Sejatinya dalam Bahasa Indonesia dapatlah dikatakan bahwa pembahasan ini mengulas tentang penggunaan kata sambung antar dua kalimat, baik yang memiliki arti dan tujuan yang selaras ataupun tidak. Dalam Ilmu Balaghah dikenal dengan Washl dan Fashl yang melekat erat dengan tata letak kalimat yang di- ‘athaf-kan dengan kalimat yang lainnya.
Dalam skripsi ini membahas tentang pengertian dan keberadaan bentuk Washl dan Fashl, sedangkan objek penelitian yang dianalisa adalah surat ke dua belas dalam Al-Qur’an yaitu Surat Yusuf. Surat Yusuf sendiri terdiri dari seratus sebelas ayat yang menceritakan tentang kehidupan Nabi Yusuf A.S. baik ketika mendapatkan cobaan dari Allah maupun saudara-saudaranya dan tergambar jelas dalam surat tersebut sosok nabi yang amat mendapatkan kasih sayang dari orang
tuanya, Ya’qub A.S.
Masalah yang diteliti dalam skripsi ini adalah memaparkan Washl dan Fashl dalam surat Yusuf sesuai dengan bentuknya, kemudian menganalisa dan menjelaskan alasan mengapa dipergunakannya Washl dan Fashl dalam surat tersebut. Penelitian ini diambil dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dalam kajian ilmu Balaghah dengan menjadikan tafsir sebagai medianya, bertujuan agar dapat mengemukakan tujuan dan maksud dari arti ayatayat yang terdapat dalam surat Yusuf sehingga kita dapat mengetahui secara pasti apakah ayat tersebut mengandung Washl atau Fashl atau bahkan tidak sama sekali terdapat unsur-unsur dari keduanya.
Adapun bentuk Washl terbagi menjadi tiga, yaitu: a) disaat keduanya memiliki hubungan dalam hukum i’rab, b) ketika diantara kedua kalimat memiliki kesamaan dalam bentuk kalimat khabar dan insya’, c) atau memiliki perberbedaan yang apabila di-fashl-kan akan menimbulkan perbedaan arti dan maksud dari kalimat tersebut.
Sedangkan letak dipergunakannya Fashl adalah saat kedua kalimat tidak diperbolehkan untuk di-‘athaf-kan, dibagi menjadi lima, yaitu: pertama, Kamalu Al-Ittishal di mana kedua kalimat memiliki maksud dan hubungan yang sama baik dari segi arti maupun penulisan. Kedua, Kamalu Al-Inqitha’ dimana kedua kalimat berbeda dalam bentuk kamlimat khabari dan insya’i. Ketiga, Syibhu Kamalu Al-Ittishal dimana kalimat kedua menjadi jawaban atas kalimat yang pertama. Keempat, Syibhu Kamalu Al-Inqitha’ ketika terdapat kalimat pemotong diantara dua kalimat yang memisahkan alasan dipergunkannya ‘athaf, dan kelima, Al-Tawassuth Baina Al-Kamalain disaat kedua kalimat tidak diperbolehkan untuk di-‘athof-kan karena tidak terdapat hubungan keterkaitan hukum diantara kedua kalimat tersebut.

Statistic

Downloads from over the past year. Other digital versions may also be available to download e.g. from the publisher's website.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Additional Information: Asep Abbas Abdullah
Creators:
CreatorsEmailNIM
Junud, M. IrsanUNSPECIFIEDUNSPECIFIED
Subjects: Kesusastraan > Arab
Keywords: Washl; Fashl
Divisions: Fakultas Adab dan Humaniora > Bahasa dan Sastra Arab
Depositing User: Users 18 not found.
Date Deposited: 04 Feb 2015 01:59
Last Modified: 04 Feb 2015 01:59
URI: http://digilib.uinsby.ac.id/id/eprint/159

Actions (login required)

View Item View Item