MITOS PADA MASYARAKAT PANTAI SELATAN : STUDI TENTANG UPACARA TRADISI SEMBONYO PADA MASYARAKAT PANTAI PRIGI

This item is published by Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Sardjuningsih, Sardjuningsih (2012) MITOS PADA MASYARAKAT PANTAI SELATAN : STUDI TENTANG UPACARA TRADISI SEMBONYO PADA MASYARAKAT PANTAI PRIGI. PhD thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

[img]
Preview
Text
Cover.pdf

Download (585kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Abstrak.pdf

Download (248kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Daftar Isi.pdf

Download (160kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Bab 1.pdf

Download (429kB) | Preview
[img] Text
Bab 2.pdf
Restricted to Registered users only

Download (634kB)
[img] Text
Bab 3.pdf
Restricted to Registered users only

Download (350kB)
[img] Text
Bab 4.pdf
Restricted to Registered users only

Download (698kB)
[img]
Preview
Text
Bab 5.pdf

Download (531kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Bab 6.pdf

Download (315kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Daftar Pustaka.pdf

Download (201kB) | Preview

Abstract

Masyarakat Pantai Prigi memiliki sumber kekayaan spiritual, yang terdiri dari mitos lokal, mitos pesisiran dan tradisi pedalamannya, yang seluruhnya terjalin dan membentuk religi masyarakat yang khas. Mitos lokal dan mitos pesisir selatan menjadi bagian penting dalam kaitannya dengan praktek keagamaan masyarakat. Karena terkait dengan kejadian-kejadian gaib mahluk adi kodrati, dan memiliki fungsi eksistensial manusia. Mitos merupakan peristiwa pemula dalam membentuk ritus untuk model perilaku moral dan religius. Ekspresi dari tindakan mitos yang berbentuk upacara tradisi sembonyo atau labuh laut adalah jalinan kepercayaan agama, mitos dan tradisi masyarakat. Secara geografis, struktural dan kultural masyarakat Pantai Prigi adalah masyarakat Islam pedalaman yang memiliki:
- kepercayaan sinkretis
- kebudayaan akulturatif
-praktek tradisi kejawen.
Salah satu karakter yang dapat dilihat dari praktek dan ritual keagamaan masyarakat tersebut yaitu simbol-simbol upacara yang bertumpu pada tradisi slametan, yang multi makna dan ambigu. Selametan berfungsi sebagai tindakan relegi, tindakan tradisi sekaligus sebagai tindakan magis.
Lingkungan Prigi diyakini memiliki kekuatan spiritual di balik alam: Gunung, Lautan, Pantai, dan Gua menginspirasi kehidupan batin masyarakat. Alam dijadikan subyek yang dapat menciptakan kehidupan masyarakat. Dengan kekuatan spiritual yang dimiliki, alam dipandang sebagai yang sakral, mistis dan sekaligus magis. Semboyo merupakan implementasi dari kepercayaan-kepercayan tersebut menjadi tradisi yang bernilai sakral simbolis, dan memiliki makna ganda, sebagai ungkapan syukur, sedekah, permohonan, persembahan dan pendayagunaan terhadap kekuatan mahluk halus dan roh halus. Ketergantungan spiritualisme yang tinggi terhadap alam tidak menghilangkan kepercayaan terhadap Allah Swt, sebagai pencipta alam semesta. Allah Swt tetap menempati kekuasaan tertinggi atas metafisika alam dan menguasai mahluk halus tersebut.
Penelitan ini menggambarkan konstruksi masyarakat berdasarkan varian kelompok sosio-relegius, yang terdiri dari NU tradisional, NU modernis, Muhamadiyyah, dan Abangan. Setiap varian memiliki konstruksi yang berbeda, karena perbedaan pengetahuan, pemahaman, penghayatan keagamaan dan tingkat pendidikan. Masing-masing memiliki karakter dan perspektif yang dipengaruhi sosio-kultural relegiusnya. Perbedaan konsep, praktek dan ritual tradisi selametan ini dapat dipersatukan dalam keyakinan, terutama menyangkut persoalan Internal, Spiritual dan Essoteris dibalik kekuatan alam.
Kajian ini ditemukan sebuah corak keagamaan yang sangat khas yaitu Islam Mithis, yakni praktek keagamaan yang dipengaruhi oleh sistem mitos. Hasil kajian ini berimplikasi sosial- relegius langsung terhadap dua aliran pemikiran keagaman, yaitu Skriptualis- Normatif dan Kontekstualis-Historis Cultural. Bagi kelompok Skriptualis temuan ini melegalkan praktek tahayyul yang menjadi basis perjuangan mereka untuk memeranginya. Namun bagi kelompok Abangan, temuan ini merupakan berita baik, karena praktek keagamaan mereka mendapatkan legitimasi, mendapat tempat dan legal secara kultural. Temuan ini berimplikasi dengan perspektif teori lainnya: memperkuat teori Mircea Eliade, Branislaw Malinousky, Levi Strauss, George Ritzer, Sigmund Freud. Melemahkan teori Mark Weber, August Comte dan Karl Mark, dan mengkritisi E.B Tylor

Statistic

Downloads from over the past year. Other digital versions may also be available to download e.g. from the publisher's website.

Item Type: Thesis (PhD)
Additional Information: Nur Syam
Creators:
CreatorsEmailNIM
Sardjuningsih, SardjuningsihUNSPECIFIEDUNSPECIFIED
Subjects: Kebudayaan
Keywords: Mitos; Pantai Selatan; Sembonyo; Masyarakat; Prigi
Divisions: Program Magister > Filsafat Agama
Depositing User: Editor : Ummir Rodliyah------ Information------library.uinsby.ac.id
Date Deposited: 30 Mar 2015 04:33
Last Modified: 30 Mar 2015 04:33
URI: http://digilib.uinsby.ac.id/id/eprint/1482

Actions (login required)

View Item View Item