FENOMENA BARAKAH : STUDI KONSTRUKSI MASYARAKAT DALAM MEMAKNAI ZIARAH DI MAKAM KH. ABDURRAHMAN WAHID TEBUIRENG JOMBANG JAWA TIMUR, PERSPEKTIF FENOMENOLOGIS

This item is published by Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Suis, Suis (2013) FENOMENA BARAKAH : STUDI KONSTRUKSI MASYARAKAT DALAM MEMAKNAI ZIARAH DI MAKAM KH. ABDURRAHMAN WAHID TEBUIRENG JOMBANG JAWA TIMUR, PERSPEKTIF FENOMENOLOGIS. PhD thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

[img]
Preview
Text
Cover.pdf

Download (57kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Abstrak.pdf

Download (127kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Daftar Isi.pdf

Download (97kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Bab 1.pdf

Download (408kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Bab 2.pdf

Download (487kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Bab 3.pdf

Download (345kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Bab 4.pdf

Download (472kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Bab 5.pdf

Download (143kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Daftar Pustaka.pdf

Download (90kB) | Preview

Abstract

Barakah adalah salah satu konsep yang dikenal dalam Islam bahkan mengiringi ritus-ritus keagamaan. Konsep ini hadir sebagai petanda harapan perubahan bagi pelakunya, misalnya dalam praktik tradisi ziarah ke makam ulama’ dan auliya’. Penelitian ini berusaha menelaah kegiatan para Peziarah di Makam K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Tebuireng Jombang, kaitannya dengan pemahaman mereka atas ngalap barakah. Untuk capaian ini, digunakan teori konstruksi sosial yang digagas oleh Peter L Berger. Dengan kontruksi sosial akan diamati aktivitas peziarah di makam Gus Dur yang konon didatangi oleh berbagai macam lapisan masyarakat, kalangan Santri, Awam dan Politisi.
Melalui tori konstruksi sosial, tergambarkan bahwa aktifitas ziarah dan ngalap Barakah di makam Gus Dur dengan maksud yang berbeda-beda dari setiap peziarah. Ini dilakukan berdasarkan landasan normatif (al-Qur’an dan hadis), interpretasi terdahulu, tradisi lokal hingga pragmatism politik. Para peziarah melakukannya terus menerus, bahkan melalui proses sosialisasi, ziarah ke makam Gus Dur juga dilakukan oleh peserta baru dari mereka. Jadi, ziarah ke makam Gus Dur menjadi semacam tindakan individu yang terus terjadi hingga menjadi realitas obyektif. Realitas itu lantas direfleksikan kembali dalam ruang individual, sekaligus ditafsirkan sesuai dengan pengalamannya masing-masing dan sosio-kultur yang membentuknya.
Penelitian ini juga menemukan tentang keyakinan bahwa nilai-nilai keberkahan ada dalam makam Gus Dur sehingga patut dijadikan obyek ziarah. Namun, keyakinan ini juga berbeda-beda sesuai dengan latar belakangnya, Kalangan Santri memaknai barakah sebagai ziya>datu al-amal untuk mendekatkan diri kepada Allah, sehingga barakah dikalangan santri disebut sebagai barakah al-kalamiyah. Sedangkan kalangan awam menaknai barakah sebagai sebagai wasilah untuk medapatkan keuntungan praktis, sehingga barakah ini dapat disebut sebagai barakah al-‘ama>liyah, barakah ini terbagi berdasarkan tipologi orang awam yaitu latar belakang petani, pedagang, kalangan pelajar atau siswa dan kalangan non muslim. Kalangan petani berharap barakah agar cocok tanamnya tumbuh subur dan mendapatkan keuntungan berlimpah, pada konteks ini barakah disebut barakah al-mazra>’iyah. Kalangan pedagang berharap barakah agar dagangannya laris dan mendapatkan keuntungan berlimpah, pada konteks ini barakah disebut barakah al-tija>riyah, dan di kalangan pelajar atau siswa berharap barakah dapat ujiannya berjalan lancar dan mendapatkan nilai maksimal yang mengantarkan dirinya lulus, pada konteks ini barakah disebut barakah al-naja>h}iyah. Kalangan non muslim menziarahi makam Gus Dur untuk menghormati pribadinya semasa hidupnya, pada konteks ini barakah disebut barakah al-takrimiyah.
Dikalangan politisi barakah dilihat dari dua latar belakang berbeda yaitu politisi dari kalangan Tradisional dan politisi dari kalangan non-tradisional. Dari kalangan tradisional pemaknaan barakah tidak jauh berbeda dengan kalangan santri, namun terdapat sisipan pencitraan didalam ziarahnya, pada konteks ini barakah disebut sebagai barakah al-kalamiyah dan barakah al-martabatiyah atau wasilatu al-taswir. Sedangkan kalangan non-tradisional barakah dengan menziarahi makam Gus Dur hanya dimaknai sebagai pencitraan belaka, pada konteks ini barakah disebut sebagai barakah al-martabatiyah atau wasilatu al-taswir.
Berangkat dari pambahasan diatas, penulis mengatakan keunikan makam Gus Dur adalah potret ritus lokalistik yang membedakan dengan tempat lain, sekaligus menggambarkan kepribadiannya di terima semua lapisan masyarakat

Statistic

Downloads from over the past year. Other digital versions may also be available to download e.g. from the publisher's website.

Item Type: Thesis (PhD)
Additional Information: Ridlwan Nashir
Creators:
CreatorsEmailNIM
Suis, SuisUNSPECIFIEDUNSPECIFIED
Subjects: Filsafat > Filsafat Islam
Keywords: Barakah; Peziarah; Fenomenologis
Divisions: Program Doktor > Ilmu Keislaman
Depositing User: Editor : Ummir Rodliyah------ Information------library.uinsby.ac.id
Date Deposited: 30 Mar 2015 03:46
Last Modified: 15 Nov 2017 04:15
URI: http://digilib.uinsby.ac.id/id/eprint/1480

Actions (login required)

View Item View Item