CERAI GUGAT KARENA ISTRI SELINGKUH DALAM PUTUSAN PERKARA NOMOR: 603/PDT.G/2009/PA.MLG.: ANALISIS DENGAN PENDEKATAN MAQASID AL-SYARI’AH

Basri, Mokhamad Hasan (2014) CERAI GUGAT KARENA ISTRI SELINGKUH DALAM PUTUSAN PERKARA NOMOR: 603/PDT.G/2009/PA.MLG.: ANALISIS DENGAN PENDEKATAN MAQASID AL-SYARI’AH. Undergraduate thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

[img]
Preview
Text
Cover.pdf

Download (71kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Abstrak.pdf

Download (75kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Daftar Isi.pdf

Download (71kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Bab 1.pdf

Download (89kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Bab 2.pdf

Download (463kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Bab 3.pdf

Download (106kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Bab 4.pdf

Download (156kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Bab 5.pdf

Download (32kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Daftar Pustaka.pdf

Download (33kB) | Preview

Abstract

Skripsi ini berjudul cerai gugat karena istri selingkuh dalam putusan perkara
nomor: 603/pdt.g/2009/pa.mlg. (studi analisis dengan pendekatan maqāshid alsyarī’ah).
Penelitian ini bertujuan untuk menjawab permasalahan apa pertimbangan
hukum hakim terhadap putusan Pengadilan Agama Malang No :
603/Pdt.P/2011/PA.mlg tentang cerai gugat karena istri selingkuh dan bagaimana
posisi putusan tersebut dalam optik studi analisis dengan pendekatan maqāshid alsyarī’ah
terhadap putusan Pengadilan Agama Malang No : 603/Pdt.G/2009/PA.Mlg.
Data dalam penelitian ini dihimpun dari berkas perkara dan wawancara dengan
hakim yang selanjutnya dianalisis menggunakan teknik deskriptif kwalitatif dengan
menggunakan pola pikir deduktif.
Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa Pertama, Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa dasar hukum yang digunakan dalam memutus perkara cerai
gugat karena istri selingkuh adalah Pasal 1 dan Pasal 33 UU No. 1 Tahun 1974 jo.
Pasal 3 dan pasal 77 KHI, pasal 19 huruf (f) PP No. 9 Tahun 1975 jo. pasal 116
huruf (f) KHI, pendapat (Syaikh) Abdurrahman Ash-Shabuni dalam kitab Madâ
Hurriyyatu al-zaujain fî al-thalâq, dan pendapat Syekh al-Majidi dalam kitab
Ghayatul Maram tentang talak. Kemudian pertimbangan hakim untuk memutus
perkara cerai gugat karena istri selingkuh adalah Yurisprudensi Mahkamah Agung
No. 38 tahun 1990 MA 38/K/AB/1990 tanggal 5 Desember 1991 yang berisi tentang
prinsip hakim dalam memutuskan perceraian tidak mempersoalkan siapa yang
salah dan siapa yang benar, serta apa penyebabnya.Kedua, bahwa putusan hakim
tentang kasus perkara pada putusan no.603/pdt. g/2009/pa. mlg hukumnya boleh
karena tidak bertentangan dengan maqāshid al-syarī’ah dan sudah sesuai dengan
maqāshid al-syarī’ah yaitu adanya kemaslahatan bahkan bisa jadi dianjurkan karena
agar terhindar dari perbuatan maksiat terus menerus yang merupakan salah satu
bagian pokok dari maqāshid al-syarī’ah yaitu hifzh al-nasl.
Sejalan dengan kesimpulan di atas, maka kepada Pengadilan Agama disarankan
dalam mengajukan permohonan atau gugatan perceraian, hendaknya masing- masing
pihak terlebih dahulu instropeksi diri untuk tidak tergesa-gesa memutuskan
perceraian. Apalagi pihak yang menggugat adalah pihak yang sebenarnya menjadi
penyebab retaknya rumah tangga. Hal ini perlu diperhatikan, karena walaupun secara
hukum positif perceraian dapat dikabulkan, namun secara syari’ah orang yang
mengajukan perceraian tanpa alasan yang sah, maka haram baginya bau surga.

Email:
Item Type: Thesis (Undergraduate)
Additional Information: Imam Mawardi
Uncontrolled Keywords: Cerai Gugat; Istri Selingkuh; Maqasid al Syari'ah
Subjects: Cerai Gugat
Hukum Islam
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Hukum Keluarga Islam
Depositing User: Editor : Arifah Wikansari------ Information------library.uinsby.ac.id
Date Deposited: 26 Feb 2015 02:30
Last Modified: 26 Feb 2015 02:30
URI: http://digilib.uinsby.ac.id/id/eprint/1156

Actions (login required)

View Item View Item