KRITIK ABDAL-FATAH AL-QODI TERHADAP IGNAZ GOLDZIHER TENTANG QIRA'AT

Fathurrozi, Moh. (2014) KRITIK ABDAL-FATAH AL-QODI TERHADAP IGNAZ GOLDZIHER TENTANG QIRA'AT. Masters thesis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

[img]
Preview
Text
Cover.pdf

Download (282kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Abstrak.pdf

Download (172kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Daftar Isi.pdf

Download (120kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Bab 1.pdf

Download (378kB) | Preview
[img] Text
Bab 2.pdf
Restricted to Registered users only

Download (486kB)
[img] Text
Bab 3.pdf
Restricted to Registered users only

Download (525kB)
[img] Text
Bab 4.pdf
Restricted to Registered users only

Download (586kB)
[img]
Preview
Text
Bab 5.pdf

Download (112kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Daftar Pustaka.pdf

Download (203kB) | Preview

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara mendalam pandangan Goldziher dan al-Qadi tentang qira’at al-Quran. Menggunakan library resech (kepustakaan), pendekatan sejarah dan analisa data dengan diskriptik-analitis.
Kitab suci al-Quran merupakan target utama serangan kaum orientalis untuk meruntuhkan pondasi bangunan yang mapan dalam islam. Kajian orientalis terhadap kitab suci al-Quran tidak sebatas mempertanyakan isu klasik tentang pengaruh kitab-kitab terdahulu, seperti kitab Zoroaster, Taurat, dan Injil. Mereka mengangkat isu sejarah kodifikasi teks al-Qur’an yang dinilai penuh polemik. Salah satu orientalis yang getol melakukan kajian al-Qur’an melalui qira’at adalah Goldziher.
Dalam pandagannya, yang terekam dalam karya monomentalnya “Madhahib al-Tafsir al-Islamiy”, Goldziher menilai bahwa qira’at bukan merupakan wahyu yang diturunkan kepada Nabi. Hal ini tampak dari sejarah kodifikasi mushaf pada masa Uthman. Saat itu mushaf ditulis dengan sangat sederhana tanpa tanda huruf (titik) dan tanda baca (harakat), sehingga seorang pembaca bisa berimprovisasi sesuai seleranya masing-masing. Karena itu, Goldziher berani menyimpulkan bahwa qira’at adalah karya manusia. Di samping itu, Goldziher juga menilai bahwa dalam al-Qur’an terdapat kekacauan dan inkonsistensi bacaan. Kekacauan dan inkonsistensi tersebut tidak ditemukan dalam kitab-kitab samawi sebelum al-Qur’an.
Sebagai respon dari tesis Goldziher, muncullah nama al-Qadi, sebagai intelektual muslim, dengan karyanya “al-qira’at wa Nazr al-Mustashriqin wa al-Mulhidin” sebagai anti tesis dari karya Goldziher.
Dalam pandangannya, Al-Qadi menegaskan bahwa qira’at adalah wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad Saw, melalui makaikat jibril secara tatap muka (talaqqi). Kemudian diajarkan dan dibacakan kepada para sahabat dan kemudian kepada para tabi’in secara mutawatir. Proses transmisi (periwayatan) seperti ini membuktikan bahwa qira’at telah dibaca dan dihafal dari generasi ke generasi sebelum dilakukan kodifikasi teks mushaf.
Al-Qadi juga menegaskan bahwa pondasi utama dalam qira’at al-Qur’an adalah talaqqi (tatap muka) secara langsung dalam periwayatannya bukan berpangku teks mushaf. Ia hanya sebagai penunjang dalam menghimpun qira’at-qira’at yang sahih. Sedangkan persepsi Goldziher tentang adanya kekacauan dan inkosistensi dalam bacaan al-Qur’an sebab banyaknya perbedaan, dinilai oleh al-Qadi sebuah kecerobohan dalam menyimpulkan qira’at. Menurut al-Qadi, perbedan bacaan dalam al-Qur’an tidak berimplikasi pada arti kontradiktif.
Dengan perbedaan sosial, kultur dan budaya serta metode yang digunakan dalam mengkaji qira’at, mengakibatkan pandangan keduanya bertolak belakang

Email:
Item Type: Thesis (Masters)
Additional Information: Zainul Arifin
Uncontrolled Keywords: Qira'at; Kritik; Abdal-Fattah al-Qodi; Ignaz Goldziher.
Subjects: Qira'ah
Depositing User: Editor : Ummir Rodliyah------ Information------library.uinsby.ac.id
Date Deposited: 21 Feb 2015 21:03
Last Modified: 21 Feb 2015 21:03
URI: http://digilib.uinsby.ac.id/id/eprint/1022

Actions (login required)

View Item View Item